Kehidupan manusia purba pada masa bercocok tanam

Updated at : February 18, 2015
Kehidupan manusia purba pada masa bercocok tanam - Manusia purba yang sebelumnya hanya mengumpulkan makanan atau food gathering mengalami perubahan pola hidup menjadi food producing atau penghasil makanan. Manusia purba melakukan kegiatan bertani dan beternak setelah mereka tinggal di kampung kecil yang biasanya dekat sumber air.

Mereka tidak lagi hidup dengan cara berpindah-pindah tempat tetapi sudah mulai menetap( semi nomaden ). Masyarakat pertanian ini oleh para ahli diperkirakan muncul pada zaman mesolitikum dan manusia pendukungnya adalah homo sapiens yang berasal dari rumpun proto melayu yang telah bermigrasi atau pindah di indonesia. Sistem irigasi ladang mereka masih sangat sederhana dan masih tergnatung dari kesuburan tanah dan air hujan. Jika tanah pertanian sudah di anggap tidak subur maka mereka akan mencari tempat yang masih subur untuk melakukan pertanian. Tradisi seperti in masih banyak kita jumpai hingga saat ini di indonesia seperti di wilayah pedalaman sumatra, kalimantan dan papua.

Dari kampung-kampung kecil tersebut lalu terbentuklah desa-desa sederhana dengan pertanian sebagai basis perekonomiannya. Pada masa ini sudah dipilih seorang pemimpin untuk memimpin, pemimpin pada masa itu biasanya dipilih berdasarkan kekuatan fisik, berwibawa dan disegani, serta mempunyai kemampuan dalam memecahkan suatu masalah dengan baik. Pada masa bercocok tanam tingkat lanjut manusia yang sebelumnya masih semi-menetap sudah berubah menjadi menetap ( sedenter ), tinggal bergerombol disuatu tempat menyerupai kampung dan mempunyai kemampuan membuat peralatan untuk menggosok-gosok sampai halus alat-alat mereka yang terbuat dari batu. Mereka juga sudah mempunyai kemampuan membuat tembikar dan tenun yang sudah semakin maju. Sebagian penemuan tembikar menunjukan kalau tembikar atau gerabah pada beberapa tempat digunakan sebagai bekal kubur, dan sebagian lagi ditemukan warna hitam bekas api di bagian bawah tembikar, hal itu menunjukkan manusia pada masa itu sudah mengenal memasak makanan dengan menggunakan tembikar.

Alat-alat batu pada masa ini yang sering digunakan pada masa ini adalah beliung persegi, belincung, dan kapak. Beliung persegi digunakan untuk melubangi kayu dan membuat ukiran. Belincung di perkirakan oleh para ahli digunakan untuk membuat perahu dari batang pohon. 3 alat tersebut banyak ditemukan di situs buni bekasi propinsi jawa barat.

Di akhir masa ini juga terlihat sudah muncul kepercayaan terhadap kekuatan yang melebihi kekuatan manusia. mereka sudah percaya terhadap hal-hal ghaib atau ro-roh orang yang telah meninggal bisa mempengaruhi kehidupan mereka. Hal ini bisa kita lihat dari posisi tengkorak yang menghadap ke suatu gunung di dekat makam tersebut. Gunung dianggap sebagai tempat tinggal para roh, agar roh-roh atau kekuatan tersebut melindungi mereka dan tidak mendatangkan bahaya mereka melakukan proses pemujaan atau upacara.

Mereka juga membuat bangunan-bangunan besar di tempat-tempat yang di yakini sebagai tempat tinggal roh, contohnya di gunung atau dataran tinggi.

Demikian sedikit pembahasan tentang Kehidupan manusia purba pada masa bercocok tanam semoga bisa menambah wawasan pengetahuan kita semua.[]