Sejarah Berdirinya Ka’bah di Mekkah dan Info Menarik Lainnya

Updated at : August 23, 2016
Seluruh umat Islam di dunia pasti mengetahui bangunan sangat penting bagi agama ini. Meskipun belum pernah mendatangi atau menziarahinya, namun sepertinya tidak ada satupun umat yang tidak mengetahui apa itu Ka’bah.

Ka’bah adalah sebuah bangunan berbentuk persegi yang berada Mekah. Tempat ini merupakan patokan atau kiblat bagi umat muslim yang hendak melakukan ibadah.

Selain sebagai kiblat seluruh umat muslim di dunia, ka’bah juga merupakan tempat yang wajib untuk di ziarahi ketika musim haji atau umrah tiba.

Dahulu kala, Mekah merupakan sebuah lahan yang sejauh mata memandang yang terdapat hanyalah hamparan pasir luas. Aliran air zam-zam lah yang membuat daerah ini menjadi berpenghuni hingga akhirnya menjadi sebuah daerah awal peradaban umat muslim.

Ka’bah yang juga di sebut sebagai Bayt al’Atiq yaitu sebuah bangunan yang di pugar pada jaman Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As, setelah keduanya berada di Mekah atas perintah Allah SWT.
Sejarah Berdirinya Ka’bah di Mekkah dan Info Menarik Lainnya
Ka'bah
Hal ini di buktikan dengan adanya firman Allah yang menjelaskan bahwa Ka’bah sudah ada pada jaman Nabi Ibrahim. yaitu pada surat Ibrahim ayat 37 yang artinya :

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37)

Nabi Ismail As yang merupakan putra Nabi Ibrahim dan Siti Hajar merupakan orang pertama yang memijakkan kakinya di sumber mata air zam-zam. Pada saat ini, Nabi Ismail dan ibunya Situ Hajar di tinggal oleh Nabi Ibrahim ke Kanaan.

Baca juga : Sejarah Dan Makna Idul Adha (Hari Raya Qurban)

Di tengah padang pasir yang begitu terik, Siti Hajar dan Nabi Ismail kedatangan banyak musafir. Diantara beberapa musafir tersebut memutuskan untuk tinggal, namun beberapa di antaranya memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya atau pergi.

Tak lama kemudian Nabi Ibrahim datang dan menerima wahyu untuk mendirikan Ka’bah tepat di kota tersebut. Setelah menerima wahyu dari Allah, Nabi Ibrahim pun segera membangun ka’bah tepat berada di tanah bekas bangunan ka’bah yang di bangun oleh Nabi Adam dahulu kala.

Ka’bah yang di bangun oleh Nabi Adam ini hancur karena hantaman air saat banjir bandang pada masa Nabi Nuh. Dan di ketahui bahwa bangunan ka’bah di pugar pertama kalinya yaitu pada tahun 1500 SM.

Bersama dengan putranya yang begitu taat, Nabi Ibrahim memulai membangun ka’bah dan mengambil bebatuan dari bukit Hira, Qubays, dan beberapa tempat lainnya. Selama beberapa hari, Ka’bah mulai beranjak menjadi bangunan yang memiliki panjang 30-31 hasta, lebar 20 hasta.

Di salah satu sisi bangunan ka’bah, terdapat sebuah batu hitam yang sangat bersejarah untuk Islam, yang sering di sebut sebagai Hajar Aswad. Batu tersebut memiliki keistimewaan tersendiri karena batu itu merupakan batu yang di berikan oleh Malaikat Jibril.

Sebelumnya batu itu di simpan di bukit Qubays, yaitu saat banjir bandang masa Nabi Nuh. Bahkan sampai saat ini, Hajar Aswad merupakan magnet tersendiri bagi peziarah ka’bah, hampir semua orang yang datang ke ka’bah berlomba-lomba untuk dapat mencium atau sekedar menyentuh Hajar Aswad. Kebiasaan atau keinginan ini muncul karena Rasulullah sendiri telah memberikan contoh pada umatnya untuk mencium Hajar Aswad.

Setelah ka’bah selesai di bangun, segera Nabi Ibrahim menyeru umatnya untuk mendatangi atau berziarah ke Ka’bah.Dan dari sinilah merupakan awal mulanya terdapat ibadah haji.

Karena pada masa Nabi Ibrahim, ka’bah hanya di bangun dengan ketinggian sekitar 7 meter dan tidak memiliki atap, barang berharga yang ada di dalamnya sering kali hilang. Dengan adanya insiden tersebut, bangsa Quraisy yang merupakan bangsa pengendali Mekah (setelah Nabi Ibrahim Wafat) berinisiatif untuk merenovasi ka’bah.

Pada masa Rasulullah ka’bah juga mengalami perubahan atau renovasi. Untuk bisa merenovasi ka’bah, bangunan awal terlebih dahulu harus di hancurkan, dan orang pertama yang menghancurkan ka’bah yaitu Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumy. Jaman berganti, hingga tiba pada masa Rasulullah SAW.

Namun pada renovasi yang ke beberapa kali ini, terdapat sebuah perselisihan. Dan saat adanya perselisihan inilah, sikap adil Rasulullah begitu nampak dari dirinya.

Saat itu terdapat 4 suku yang beselisih pendapat dan berlomba untuk meletakkan Hajar Aswad kembali pada tempatnya. Karena jumlah Hajar Aswad hanya 1 tentu saja tidak semua suku bisa menempatkan Hajar Aswad.

Dan saat itulah Rasulullah mengambil keputusan dengan cara melebarkan secarik kain, kemudian Hajar Aswad di letakkan di atas kain tersebut. Kemudian keempat ketua suku diminta untuk memegang satu persatu pojok kain tersebut.

Dengan begitu maka keempat suku dapat bersamaan menaikkan Hajar Aswad kembali ke posisinya, dan dengan begitulah Rasulullah mencegah terjadinya pertumpahan darah akibat perebutan penempatan Hajar Aswad.

Pada tahun 692  M, terjadi renovasi ka’bah terbesar. Jika dahulunya Ka’bah terletak raungan sempit dan terbuka yang berada di tengah masjid, yaitu yang sekarang di sebut dengan masjidil Haram.

Kemudian pada tahun 700-an, tiang kayu masjidil haram di ganti dengan tiang yang berbahan marmer, serta sayap-sayap masjid di perluas. Renovasi ini sangat di perlukan mengingat semakin berkembangnya agama Islam dan semakin banyaknya peziarah yang mendatangi Ka’bah.

Baru pada tahun 1520 M, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Selim ka’bah kembali di renovasi dengan arsitektur yang lebih modern. Bahkan arsitektur pada masa inilah yang sampai saat ini masih di pertahankan.

Bukti bahwa ka’bah merupakan rumah Allah dan merupakan tempat utama untuk beribadah telah di sampaikan Allah dalam firman-Nya, yaitu

"Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia (Qs. Ali Imran: 96).

Karena Baitullah (rumah Allah) atau Baitul ‘Atiq (rumah kemerdekaan) ini di bangun dengan bentuk persegi empat, maka semua.sisi tembok di beri nama sesuai dengan nama negeri arah tembok tersebut menghadap, yaitu :

Sebelah Utara Rukun Iraqi (Irak)
Sebelah Barat Rukun Syam (Suriah)
Sebelah Selatan Rukun Yamani (Yaman)
Sebelah Timur Rukun Aswad (Hajar Aswad)

Namun untuk sisi keempat memiliki nama berbeda, karena pada sisi tersebutlah Hajar Aswad berada.

Keempat sisi tembok ka’bah di tutup menggunakan kain yang di sebut dengan Kiswah. Ya, memang sejak jaman nabi Ismail pun ka’bah sudah di tutup menggunakan Kiswah. Pada saat ini, Kiswah terbuat dari kain berbahan dasar sutra asli dan di hiasi dengan kaligrafi yang memiliki benang berbahan emas.

Kiswah sendiri di ganti 1 tahun sekali, sedangkan untuk bangunan ka’bah di bersihkan 2 kali dalam setahun, yaitu pada awal bulan DzulHijjah dan awal bulan Sya’ban.

Semoga dengan penjelasan tentang sejarah ka’bah tersebut dapat menambah wawasan anda. Dan bagi anda yang belum terpanggil untuk datang ke Baitullah, semoga di beri kesempatan untuk segera kesana.





No comments: