Sejarah Dan Makna Idul Adha (Hari Raya Qurban)

Updated at : August 03, 2016
Idul Adha merupakan hari istimewa untuk agama Islam, Pasalnya hari ini sangat ditunggu-tunggu seluruh umat Muslim di dunia untuk memperingati hari raya kurban. Peristiwa yang umat Islam ingat mengenai kisah Nabi Ibrahim A. S, yaitu saat Nabi Ibrahim bersedia mengorbankan putranya Ismail untuk Allah SWT. Kemudian Ismail digantikan oleh Allah dengan domba.

Pada hari yang sangat istimewa ini, umat Muslim di seluruh dunia berbondong-bondong datang ke masjid untuk melakukan sholat Ied. Tidak hanya di masjid saja sholat Ied bisa dilaksanakan, karena sholat Ied juga bisa dilakukan di tanah lapang.

Setelah sholat Ied selesai, umat Muslim melakukan penyembelihan hewan kurban. Hal ini dilakukan untuk memperingati perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti dari putranya Ismail.
Idul Adha
sumbersuko1.blogspot.co
Hari raya Idul Adha jatuh pada 10 bulan Dzulhijah, yaitu hari 70 hari setelah perayaan Idul Fitri. Pusat perayaan Idul Adha yaitu pada sebuah desa kecil di Arab Saudi bernama Mina, posisinya dekat dengan Makkah. Di sini terdapat 3 tiang batu yang melambangkan Iblis, dan harus dilempari dengan batu oleh umat Muslim saat mereka menunaikan ibadah Haji. Idul Adha juga memiliki nama lain yaitu Idul Qurban atau Lebaran Haji.

Umat Islam meyakini bahwa pusaka atau inti dari ibadah haji adalah ketika wukuf di padang Arafah. Sedangkan Hari Arafah sendiri merupakan hari dimana jamaah haji melakukan wukuf di Arafah.

Seperti yang tertera dari sabda Nabi Muhammad SAW,
 “Ibadah haji adalah wukuf di padang Arafah”.
(HR. AtTirmidzi, Al Baihaqi, Ibnu Majah, Ahmad, ad Daruquthni, dan al Hakim)

Dalam hadis yang pernah dituturkan oleh Husain bin al-Harits al Jadali berkata, bahwa amir Makkhah pernah menyampaikan khutbah lalu berkata:

“Rasulullah SAW, telah berpesan kepada kami agar kami menunaikan ibadah haji berdasarkan ru’yat (hilalDzulhijah). Jika kami tidak bisa menyaksikannya, kemudian ada dua saksi adil (yang menyaksikannya), maka kami harus mengerjakan manasik berdasarkan kesaksian mereka."
(HR Abu Dawud, ad Daruquthni, dan al Baihaqi.)

Hadist tersebut menjelaskan bahwa pelaksanaan ibadah haji harus berdasarkan pada hasil ru’yathilal 1 Dzulhijah, sehingga kapan Idul Adha dan wuqufnya dapat ditetapkan. Pesan kedua dari Nabi kepada amir Makkah adalah mengenai tempat dilaksanakannya untuk melakukan ru’yat. Apabila tidak berhasil, maka ru’yat orang lain, yang menyatakan kesaksiannya pada amir Makkah.

Saat Idul Adha, umat Muslim melakukan ibadah kurban. Kurban sendiri memiliki praktik sendiri di banyak agama di dunia. Dan kurban tersebut sebagai tanda kesedihan si pemeluknya untuk menyerahkan sesuatu kepada Tuhannya.
Makna Idul Adha
supramistik.wordpress.com


Makna Idul Adha


Para Nabi menunjukkan bahwa kurban hanyalah satu bagian dari pengabdian kepada Allah, yang harus disertai dengan moralitas serta kebaikan dalam diri manusianya itu sendiri.

Hari raya Idul Adha yang dirayakan umat Muslim di seluruh dunia menandakan bahwa telah berakhirnya menunaikan ibadah haji di Makkah. Ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima untuk mereka yang mampu, dan menandakan ibadah kurban telah dilaksanakan dan dibagikan kepada yang tidak mampu.

Ibadah kurban adalah ibadah yang hanya boleh dilakukan dalam 4 hari, yaitu dari selepas khatib menyampaikan khutbah hingga sebelum terbenamnya matahari pada hari ke 13 Dzulhijah.

Dari segi bahasa sendiri kurban bermaksud dekat, manakala dari segi istilah berarti menjalankan perintah agama karena ingin mendekatkan diri kepada Allah.10 Dzulhijah sendiri sebenarnya merupakan peristiwa penting dimana Nabi Adam dan Hawa dikeluarkan dari syurga dan diturunkan ke bumi.

Pada hari raya Idul Adha, setiap umat Muslim disunnahkan untuk mengenakan pakaian yang bersih, rapi, cantik, serta memakai wewangian. Karena itu saat Idul Adha telah datang, segeralah untuk senantiasa lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Setelah itu, setiap Muslim berbondong datang ke tanah lapang atau masjid untuk melaksanakan ibadah sholat Ied. Apabila sholat Ied telah selesai, kambing, sapi, dan biri-biri yang dikorbankan akan disembelih. Barulah dibagi-bagikan kepada khalayak ramai terutama fakir miskin.

Hari raya juga disambut saat umat Muslim membuat penziarahan ke Mekkah, yaitu mengunjungi Ka’bah dan melaksanakan korban penyembelihan. Selepas sholat Ied, semua umat Islam juga berkunjung ke makam untuk berziarah ke orang yang dikasihi. Mohon maaf lahir batin juga ada pada Idul Adha layaknya Idul Fitri. Karena kita tahu bahwa setiap manusia memiliki kesalahan yang harus dimaafkan.

Di Indonesia sendiri saat Idul Adha banyak sekali tradisinya. Mulai dari takbir keliling, salam-salaman, melihat penyembelihan kurban, dan masih banyak lagi. Semua itu dilakukan sebagai rasa syukur karena Allah telah melimpahkan segala rahmat untuk menjalani hidup di dunia ini.

Berbeda dari Idul Fitri yang terdapat tradisi membuat ketupat lebaran. Karena pada saat Idul Adha warga ramai mendatangi tempat penyembelihan kurban. Biasanya tempat penyembelihan hewan kurban terletak tidak jauh dari masjid atau bahkan di samping masjid. Para warga datang untuk menyaksikan penyembelihan hewan kurban. Setelah itu, hewan kurban yang telah dipotong dibagikan ke warga yang tidak mampu atau fakir miskin.

Dari hari raya yang sangat istimewa ini memberikan pelajaran kepada kita semua untuk selalu taat kepada perintah Allah AWT, seperti ketakwaan yang dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim as. Selain itu, kita juga diajarkan untuk saling membantu sesama umat manusia. Seperti yang telah diajarkan pada hari raya Idul Adha, bahwa membagikan hewan kurban kepada orang yang tidak mampu. Dari ini kita bisa tahu bahwa manusia itu harus saling membantu.

Sejarah Idul Adha

Sejarah Idul Adha

Hampir semua orang yang beragama Islam tentu sudah tidak lagi merasa asing dengan  Idul Adha karena dirayakan setiap tahunnya. Namun, sudahkah anda benar-benar memahami apa saja yang melatar belakangi hadirnya Idul Adha? Tentu saja perayaan penting seperti Idul Adha tidak mungkin ada tanpa maksud dan alasan yang penting pula.

Seperti yang anda ketahui, Idul Adha juga merupakan salah satu Hari Raya bagi Umat Muslim, berbeda dengan Idul Fitri yang akan anda rayakan setelah berpuasa pebuh selama satu bulan, Idul Adha memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kurban, dimana nantinya mereka yang mampu diwajibkan untuk mengeluarkan Qurban hewan, baik berupa sapi, kambing ataupun unta.

Bagi anda yang belum mengetahuinya, Idul Adha dirayakan pada Tanggal 10 dibulan Dzulhijjah, yang artinya tepat 70 hari setelah anda merayakan Idul Fitri. Lalu, sebenarnya, apa yang melatarbelakangi hadirnya Idul Adha dan mengapa anda merayakannya setiap tahun selama ini?

Membicarakan mengenai Idul Adha, tentu tidak bisa jauh-jauh dari Kisah Nabi Ibrahim. Sebagai seorang Nabi, Ibrahim memang harus mentaati semua perintah dari Allah Ta’ala, meskipun perintah tersebut sangatlah berat terlebih bagi orang yang masih awam.

Ada sebuah kisah yang menyebutkan jika Pada awalnya, Nabi Ibrahim merupakan seseorang yang sangat kaya hingga ia dengan senang hari mengurbankan 100 ekor domba, 300 ekor sapi,juga 100 ekor unta.Melihat banyaknya hewan yang dikurbankan, tentu saja semua orang merasa kagum dengan kebaikan hati Nabi Ibrahim.

Namun sayangnya, meskipun Nabi Ibrahim merupakan orang yang sangat baik dan kaya raya, hingga kini ia belum memiliki seorang anak pun dari istri yang sangat dicintainya bernama Sarah. Hingga pada saat mengurbankan hewan yang sudah disebutkan tadi, Nabi Ibrahim mengatakan bahwa kurban tersebut belumlah apa-apa, jika ia memiliki seorang anak, maka atas Nama Allah ia ikhlas mengurbankan anaknya.

Karena merasa kebahagiaan nya belum terasa lengkap tanpa seorang anak, akhirnya Sarah menyarankan agar Nabi Ibrahim menikah lagi, dan wanita yang disarankan ialah Siti Hajar, yang tidak lain ialah seorang budak yang berasal dari Negara Mesir. Kemudian mereka pun menikah dan diberikan seorang anak laki-laki tampan yang diberi nama Ismail.

Ada beberapa pendapat mengenai usia Nabi Ibrahim ketika ia mendapatkan anak, namun banyak yang menyebutkan bahwa usianya pada saat itu ialah 90 tahunan. Dan nama Ismail sengaja dipilih karena memiliki makna “Allah telah mendengar”, dimana mengartikan bahwa doa dari Nabi Ibrahim selama ini akhirnya didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT.

Pada suatu hari, Nabi Ibrahim mendapatkan Wahyu yang didalamnya memerintahkan dirinya agar menempatkan sang istri Hajar bersama dengan anaknya yang masih bayi ke sebuah tempat yang sangat jauh dan tandus.

Tempat yang dituju oleh Nabi Ibrahim dan Siti Hajar berjarak 1600 KM dari Negaranya sendiri yakni Palestina. Pada masa itu, menempuh jarak sejauh itu tentu saja bukanlah perkara yang mudah, perlu perjalanan berhari-hari untuk bisa mencapai tempat asing tersebut.

Namun atas dasar iman dan ketaqwaan, Nabi Ibrahim dan istri tidak merasa keberatan sedikitpun, dengan ikhlas dan yakin mereka melakukan perintah tersebut, tidak terkecuali dengan membawa sang anak yang masih bayi. Adapun perintah ini dapat anda lihat pada Surat Ibrahim ayat 37 yang artinya:
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku disuatu lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman didekat rumah-Mu (Baitullah) yang dimuliakan. Ya Tuhan kami (sedemikian itu) agar mereka mendirikan Shalat. Maka jadikanlah ganti sebagai manusia cenderung kepada mereka dan beri rezeki mereka dari buah-buahan.Mudah-mudahan mereka bersyukur.

Ketika sudah sampai dilembah yang terasing tersebut, bukan berarti ujian Nabi Ibrahim dan istrinya telah selesai. Pada lembah asing tersebut masih banyak ujian yang harus mereka lewati, yakni ketika mereka telah kehabisan air minum dan Siti Hajar tidak lagi bisa menyusui anaknya Ismail.

Tidak mau berputus asa, Siti Hajar terus menerus mencari air kesana-sini, tidak perduli meskipun ia harus bolak-balik dan naik turun  bukit. Siti Hajar berlari kecil diantara Bukit Sofa dan Bukti Marwa sebanyak tujuh kali. Kisah Nabi Ibrahim dan Siti Hajar ini tidak hanya memiliki keterikatan yang besar dengan Idul Adha, namun juga pada Ibadah Haji karena Sa’i menjadi salah satu rukun Ibadah Haji.

Karena melihat perjuangan Siti Hajar untuk mendapatkan air yang tidak kenal putus asa, ahirnya Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk membuat mata air yang kini dikenal sebagai mata air Zam zam. Selain menjadi sumber kehidupan untuk keluarga Nabi Ibrahim saat itu, mata air ini juga menjadi sumber kehidupan dan kemakmuran untuk mereka yang hidup didaerah tersebut.

Setelah berhasil melewati ujian tersebut, ujian lainnya pun datang lagi kepada Nabi Ibrahim, yakni perintah untuk menyembelih anak kesayangannya Ismail sebagai pembayaran atas ucapannya beberapa saat yang lalu. Hal inilah yang menjadi asal dan sejarah utama Idul Adha.

Lewat mimpinya, Nabi Ibrahim menerima perintah untuk menyembelih atau mengurbankan anaknya sendiri. Mimpi tersebut tidak hanya datang sekali, karena pada awalnya Nabi Ibrahim masih merasa ragu apakah mimpi tersebut benar-benar berasal dari Allah SWT atau hanya sekedar bunga tidur saja.

Ada beberapa pendapat juga mengenai usia Ismail ketika akan disembelih, ada yang menyebutkan bahwa pada saat itu Ismail masih berusia 7 tahun, namun ada juga yang meyakini bahwa Ismail telah berusia 13 tahun pada saat itu.

Setelah merasa yakni bahwa mimpi tersebut ialah perintah dari Allah SWT, akhirnya Nabi Ibrahim memutuskan untuk membicarakannya dengan sang istri Siti Hajar. Luar biasa, Siti Hajar mengatakan bahwa, jika hal tersebut benar-benar perintah dari Allah, maka ia merasa ikhlas melepaskan anaknya untuk disembelih.

Sesudah mendapat persetujuan dari istrinya, kini saatnya Nabi Ibrahim membicarakannya dengan Ismail. Diluar dugaan pula, Ismail siap untuk disembelih atas nama Allah. Prosesi ini tentu saja tidak berjalan dengan mudah, Iblis selalu berupaya untuk menghasut Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail untuk tidak melaksanakan perintah Allah tersebut, namun mereka tetap menjaga keimanan dan ketaqwaannya pada Allah SWT.

Untuk melaksanakan penyembelihan tersebut, Ismail dibawa ke sebuah lembah oleh Nabi Ibrahim. Meskipun Nabi Ibrahim masih merasa iba pada anaknya, namun tidak sekalipun Ismail merasa ragu dan terus menerus meyakinkan ayahnya untuk melaksanakan perintah.

Ketika Ismail sudah ditempatkan pada tempat yang cocok Nabi Ibrahim mulai mencoba untuk menyembelih putranya tersebut.

Hingga pada akhirnya, di gantilah Ismail dengan seekor Domba Kibas oleh Malaikat Jibril, dan Ismail hanya terkena goresan sedikit pada bagian lehernya. Melihat ketaqwaan Nabi Ibrahim, semesta pun ikut bertakbir mengumandangkan kebesaran Allah SWT.

Itulah kisah dan sejarah Idul Adha yang saat ini anda rayakan setiap tahunnya, semoga dengan kisah tersebut keimanan dan ketaqwaan anda bisa menjadi semakin besar dan tidak lagi memiliki keraguan terhadap Allah SWT.





No comments: