Nama-Nama Walisongo : Sejarah, Silsilah, Kisah dan Peninggalan

Daftar isi [Tampil]
Walisongo beserta nama aslinya - Siapa yang tidak mengenal sembilan wali penyebar agama Islam atau yang populer dengan sebutan Wali Songo? Iya benar sekali, hampir semua orang di Indonesia mengenal sembilan tokoh agama Islam yang sangat berperan penting terhadap penyebaran agama ini di Indonesia, atau paling tidak pernah mendengar nama mereka.

Siapa sajakah mereka, dari mana mereka berasal dan bagaimana kisah-kisah dalam perjalanan mereka menyebarkan agama kebaikan ini. mari kita simak penjelasan berikut ini.

Sejarah, Silsilah, Kisah dan Foto Wali Songo

Walisongo

Dalam beberapa penelitian, disebutkan bahwa agama Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke 7, dibawa oleh para pedagang Arab yang hendak berdagang. Namun ada juga yang menyebutkan bahwa Islam dibawa oleh pedagang india pada tahun 1300an.

Tidak dapat disebutkan dengan pasti sejak kapan agama Islam ini telah berkembang di bumi nusantara karena di beberapa tempat, banyak ditemui peninggalan-peninggalan kebudayaan Islam seperti sebuah makam tokoh Islam di Barus, Tapanuli tengah yang pada batu nisannya tertulis wafat pada tahun 672 Masehi.

Agama Islam masuk ke tanah Jawa pada tahun 1400an, dibawa dan disebarkan oleh para Wali Songo di beberapa daerah sesuai asal kelahiran mereka. Kemunculan Wali Songo ini menandai berakhirnya era agama Hindu Budha dan penganut kepercayaan yang masih kental di tanah Jawa. Berikut ini sejarah Wali Songo di tiap-tiap daerah

1. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim

Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim

Beberapa sumber menyatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim bukanlah asli orang Jawa. Beliau lahir di Samarkhan, Asia Tengah pada awal abad ke 14. Beliau merupakan tokoh agama yang berasal dari Arabia. Dalam beberapa versi mengenai sunan Gresik ini, dikatakan bahwa beliau adalah keturunan Nabi Muhammad yang ke 22.

Sunan Gresik ini dianggap sebagai wali pertama penyebaran agama Islam. Kedatangannya ke Indonesia ditemani oleh beberapa kerabat. Daerah pertama yang beliau tuju adalah yang berjarak 9 kilometer dari Kota Gresik yaitu sekarang dikenal sebagai Desa Leran Kecamatan Manyar. Awal mula Sunan Malik Ibrahim ini menetap, beliau tidak serta merta menentang ajaran Hindu-Budha yang sudah mendarah daging.

Beliau mengamati dan mendekati para penduduk dengan budi bahasanya yang halus dan santun. Itulah sebabnya mengapa kemudian banyak penduduk yang menghormati beliau dan kemudian mulai tertarik pada ajaran yang dibawanya. Dalam proses penyebaran agama, beliau banyak mendirikan pesantren-pesantren yang dijadikan tempat untuk mendidik generasi penerus.

Sunan Gresik ini terkenal pula sebagai seorang pedagang. Beliau terlibat dalam banyak perdagangan sehingga usahanya menjadi besar. Dalam kehidupan sehari-hari, beliau dikenal sering sekali membantu orang-orang yang lemah dan miskin, mengajarkan cara bercocok tanam dan juga mengobati orang-orang yang sakit.

2. Sunan Ampel atau Raden Rahmat

Sunan Ampel atau Raden Rahmat

Sunan Ampel atau Raden Rahmat diketahui lahir di Champa pada tahun 1401. Beliau berdakwah di sekitar kota Surabaya. Sunan ampel sangat berperan penting dalam penyebaran agama Islam. Beliau berdakwah untuk menyebarkan kebaikan ajaran agama Islam terutama pada mereka yang masih menganut aliran kepercayaan.

Kedatangan Raden Rahmat ke tanah Jawa ditemani oleh ayah dan kakaknya. Namun Karena suatu hal, mereka terpisah dan akhirnya menjalankan misi dakwah sendiri-sendiri. Cara berdakwah Sunan Ampel ini tergolong berbeda dari Wali Songo lainnya.

Beliau melakukan pendekatan persuasive yang disesuaikan dengan orang yang akan diajaknya. Dengan penduduk dari kalangan menengah ke bawah, Sunan Ampel menggunakan metode pendekatan dan pembaruan, sedangkan dengan orang yang pandai, beliau menggunakan pendekatan nalar dan logika.

Falsafah dakwah Sunan Ampel yang sangat terkenal hingga saat ini yaitu ajaran Molimo. Ajaran ini pada dasarnya merupakan satu bentuk pembentukan karakter dimana pada jaman itu akhlak dan mental masyarakat sangat rusak. Ajaran Molimo yaitu Moh Mabok (tidak mabuk), Moh Main (tidak berjudi), Moh Medok (tidak main perempuan), Moh Madat (tidak pakai narkoba) dan Moh Maling (tidak mencuri)

3. Sunan Bonang atau Raden Makdhum Ibrahim

Sunan Bonang atau Raden Makdhum Ibrahim

Sunan Bonang merupakan putra pertama dari Sunan Ampel. Beliau lahir sekitar tahun 1465. Ibunya bernama Dewi Condrowati yang merupakan putri dari Adipati Tuban, Aryo Tejo. Pada saat muda, sunan bonang pernah melakukan perjalanan hingga ke aceh untuk memperdalam ilmu agama Islamnya. Hingga akhirnya beliau menetap di daerah pantai utara pulau Jawa.

Sunan Bonang melakukan dakwah di sekitar daerah tuban. Beliau mendirikan pondok pesantren yang dipergunakan sebagai tempat dakwah dan media pendekatan kepada masyarakat sekitar. Muridnya berasal dari seluruh penjuru tanah air. Sunan Bonang mengajarkan agama Islam dengan pendekatan melalui alat musik.

Beliau mengajarkan agama melalui tembang-tembang yang mengajarkan nilai agama Islam. Beliau tidak memaksakan kehendak dalam belajar dan memeluk agama Islam, oleh karena itu, banyak sekali penduduk yang malah tertarik ingin mengetahui Islam lebih dalam. Salah satu tembang yang diciptakan sunan bonang dan masih populer hingga saat ini adalah tembang tombo ati.

4. Sunan Drajat atau Raden Qasim

Sunan Drajat atau Raden Qasim

Sunan Drajat merupakan putra kedua dari sunan ampel. Beliau merupakan saudara dari sunan bonang. Ibunya bernama Nyai Ageng Manila. Sunan drajat terkenal akan kecerdasannya. Beliau juga merupakan orang yang memiliki jiwa social yang tinggi.

Pada awalnya, sang ayah memintanya untuk berdakwah di daerah pesisir Gresik, namun akhirnya ia menetap di daerah Paciran Lamongan. Sunan drajat adalah orang yang rendah hati, beliau senang membantu orang-orang di sekitarnya. Sunan drajat ini memberikan pemahaman bahwa agama Islam adalah agama yang luhur yang mengajarkan tentang gotong royong, saling membantu dan menolong.

5. Sunan Kudus atau Ja`far Shadiq

Sunan Kudus atau Ja`far Shadiq

Beberapa sumber mengatakan bahwa sunan kudus sebenarnya bukanlah penduduk asli kota kudus. Ada yang mengatakan bahwa beliau berasal dari Quds, Palestina dan kemudian pindah ke pulau Jawa.

Sunan kudus merupakan Senopati andalan kerajaan demak. Beliau bahkan menaklukkan kerajaan majapahit pada saat kepemimpinannya. Akan tetapi, keinginannya berdakwah membuatnya melepaskan jabatan di kerajaan tersebut.

Sunan kudus merupakan murid dari sunan kalijaga. Metode dakwahnya hampir mirip dengan gurunya yaitu menggunakan budaya local sebagai sarana mengajarkan ajaran Islam. Sunan kudus juga dikenal sebagai guru yang memiliki toleransi yang tinggi. Beliau mengajarkan nilai toleransi dan pondasi keagamaan yang kuat terhadap murid-muridnya.

Beberapa nilai toleransi yang ditunjukkan oleh sunan kudus adalah bahwa beliau tidak menyembelih sapi. Dalam ajaran agama Islam, sapi bukan hewan yang haram sehingga halal untuk disembelih dan dikonsumsi. Akan tetapi, budaya local masih terpengaruh pada ajaran agama hindu yang menganggap bahwa sapi adalah hewan yang suci. Oleh karena itu, penduduk setempat tidak ada yang menyembelih sapi.

6. Sunan Giri atau Raden Paku / Ainul Yaqin

Sunan Giri atau Raden Paku / Ainul Yaqin

Sunan Giri lahir pada tahun 1442 merupakan putra dari Maulana Ishaq. Sunan giri merupakan murid dari sunan ampel. Beliau belajar bersama Sunan Bonang hingga ke Daerah Pasai untuk memperdalam ilmu agamanya.

Sunan giri mendirikan pemerintahan giri kedaton di Gresik dan menjadikannya pusat untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Sunan giri menyebarkan agama dengan pendekatan secara individu terutama anak-anak. Beliau menciptakan lagu-lagu dan permainan yang mengandung pelajaran agama. Dalam lagu-lagu tersebut, diajarkan tentang ketahuidan dan mengenal Allah.

7. Sunan Kalijaga atau Raden Sahid

Sunan Kalijaga atau Raden Sahid

Sunan kalijaga merupakan salah satu sunan yang paling terkenal. Beliau merupakan anak dari tumenggung Wilatikta, Adipati Tuban yang memimpin pemberontakan Ronggolawe pada jaman majapahit. Sunan kalijaga lahir pada tahun 1455.

Raden Sahid ini merupakan murid dari sunan bonang. Beliaupun menggunakan metode yang hampir sama dengan gurunya yaitu melakukan pendekatan menggunakan budaya local. Beliau bahkan menggunakan wayang dan gamelan untuk media dakwahnya. Dalam cerita-cerita pewayangan, beliau menyelipkan ajaran agama Islam.

Sunan kalijaga merupakan orang yang gemar membantu rakyat miskin. Beberapa kali beliau mencuri hasil bumi simpanan ayahnya demi menolong orang yang miskin dan kesakitan. Hal tersebut memang bukan hal yang terpuji, namun hasil curian sunan kalijaga tersebut merupakan upeti yang dibayarkan rakyat kepada pemerintahan. Itulah sebabnya beliau merasa harus mengembalikannya kepada rakyat yang sangat membutuhkan.

8. Sunan Muria atau Raden Umar Said

Sunan Muria atau Raden Umar Said

Sunan Muria merupakan anak dari Sunan Kalijaga dan Dewi Sarah. Sunan Muria berdakwah di daerah Gunung Muria yaitu sekitar 18 kilometer dari Kota Kudus. Metode dakwah yang dipergunakan juga hampir sama dengan cara ayahnya yaitu melalui pendekatan kebudayaan local.

Sunan Muria senang terhadap alat musik. Beliau menggunakan gamelan dan wayang sebagai alat dakwah. Di puncak Gunung Muria, beliau mengajarkan cara bercocok tanam dan berdagang kepada masyarakat sekitar. Sunan Muria ini dikenal sebagai orang yang gemar membantu terutama dalam memecahkan berbagai masalah yang dialami penduduk sekitar.

Sunan Muria menyebarkan ajaran agama Islam dengan cara yang halus. Beliau tidak serta merta mengharamkan adat istiadat yang tidak ada dalam ajaran agama Islam seperti kenduri untuk orang yang sudah meninggal. Hanya saja beliau menggantikan sesajen dan menyan dengan doa dan sholawat.

9. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah

Sunan Gunung Jati lahir pada tahun 1448. Beliau merupakan keturunan bangsawan dari Timur Tengah. Pada usia 20 tahun, sunan gunung jati bersama ibunya pergi ke tanah Jawa untuk menyebarkan ajaran agama Islam.

Dakwah yang dilakukan sunan gunung jati tidaklah sendiri. Beliau ditemani beberapa sunan lainnya berdakwah di daerah Cirebon. Karena pergaulan dan kepandaiannya, sunan gunung jati kemudian mendirikan Kesultanan Pakungwati yang kemudian beliau diangkat menjadi raja dengan gelar sultan.

Kesultanan Cirebon tidak lagi menjadi bagian dari kerajaan pajajaran, oleh karena itu rakyatnya tidak perlu lagi membayar upeti. Di bawah pimpinan Sunan Gunung Jati, kesultanan Cirebon semakin besar dan luas. Beliau juga mendirikan pesantren sebagai tempat dan pusat berdakwah.

Peninggalan Walisongo

Peninggalan Walisongo
Masjid Menara Kudus

Bukan hanya dakwah islam yang diberikan 9 wali kepada masyarakat Indonesia, Tetapi para wali juga meninggalkan bukti sejarah baik berupa benda dan budaya yang masih bisa kita lihat sampai saat ini, Berikut beberapa peninggalan wali songo atau sunan:

  • Wayang Kulit Bernafaskan Islam peninggalan Sunan Kalijaga.
  • Masjid Menara Kudus peninggalan Sunan Kudus, Pendirinya adalah Sunan Kudus dibangun sejak tahun 1549 M dengan corak bangunan perpaduan budaya Islam dan Hindu. Lokasinya berada di Desa Kauman, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
  • Masjid Agung Demak. Pendirinya adalah Raden Patah merupakan salah satu masjid tertua di Pulau Jawa sejak abad 15 M dengan lokasi di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.
  • Masjid Agung Sunan Ampel. Pendirinya adalah Sunan Ampel yang didirikan di tahun 1421 M, yang berlokasi di kelurahan Ampel, kecamatan Semampir, kota Surabaya, Jawa Timur. 
  • Masjid Sang Cipta Rasa. Pendirinya adalah Sunan Gunung Jati tahun 1480 M dengan lokasi di kompleks Keraton Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia.
  • Masjid Sunan Kalijaga. Peninggalan sunan kalijaga ini lokasinya berada di Desa Kadilangu, Demak.
Selain peninggalan diatas mereka juga mengenalkan beragam bentuk teknologi baru bagi masyarakat seperti bercocok tanam, dalam bidang kesehatan, kemasyarakatan, pemerintahan, dan lain lain.

Makam Walisongo

Makam Walisongo

Karena besarnya jasa-jasa sembilan wali tersebut, Banyak masyarakat dari penjuru tanah air datang berziarah ke makam mereka. Tiap tahun tradisi ziarah ke makam wali songo menjadi sebuah kegiatan rutin yang di lakukan oleh kebanyakan masyarakat Jawa khususnya. Berikut lokasi makam 9 wali yang ada di tanah Jawa.
  • Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) Makamnya terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.
  • Sunan Ampel (Raden Rahmat) Makam Sunan Ampel teletak di dekat Masjid Ampel, Surabaya.
  • Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim) di sebelah barat Masjid Agung Tuban, dekat alun-alun Kota Tuban, Jawa Timur.
  • Sunan Drajat (Raden Qasim) Makam Sunan Drajat  terletak di  Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
  • Sunan Kudus (Ja`far Shadiq) dimakamkan di lingkungan Masjid Menara Kudus.
  • Sunan Giri (Raden Paku / Ainul Yaqin) dimakamkan di desa Giri, Kebomas, Gresik.
  • Sunan Kalijaga (Raden Sahid) Makam beliau berada di Kadilangu, Demak.
  • Sunan Muria (Raden Umar Said) Makam beliau terletak di Desa Colo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus. Berada di atas sebuah bukit. Peziarah harus menapaki anak tangga sejauh + 500 meter menuju lokasi.
  • Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) Beliau dimakamkan di Komplek makam Gunung Sembung, Gunung Jati, Cirebon.

Itulah beberapa uraian singkat mengenai Sembilan wali yang sangat berperan penting dalam proses penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Tanpa mereka, ajaran agama Islam tak akan kita anut saat ini. Jasa dan pengorbanan mereka dalam berdakwah dan memperkenalkan ajaran yang tauhid merupakan nilai yang patut kita hargai selalu.


0 Response to "Nama-Nama Walisongo : Sejarah, Silsilah, Kisah dan Peninggalan"

Post a Comment