Perjanjian Linggarjati | Latar Belakang, Waktu, Tokoh, Isi Dan Dampaknya

Daftar isi [Tampil]
Negara yang besar adalah negara yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Bapak Proklamator RI, yaitu Ir. Soekarno dengan singkatan “JASMERAH” atau jangan sekali-sekali melupakan sejarah. 

Pasca Indonesia merdeka tahun 1945, negara-negara kolonial masih saja berupaya untuk menguasai tanah air. Namun dengan segala strategi cerdiknya, tokoh pejuang Bangsa Indonesia, para cendekia bangsa mampu menyelamatkan kedaulatan bangsa dari kolonialisme bangsa barat melalui berbagai perundingan-perundingan, salah satunya yaitu Perundingan Linggarjati.

Perundingan Linggarjati adalah perundingan antara Bangsa Indonesia dengan Negara Belanda yang dimediatori oleh Inggris. Perjanjian ini berlangsung di Desa Linggarjati, Cirebon. Perundingan ini adalah suatu upaya diplomatik pemerintah Indonesia dalam memperjuangkan wilayah kesatuan RI dari cengkeraman penjajah Belanda.

Kapan Perundingan Linggarjati dilaksanakan ?

Perjanjian Linggarjati
Perjanjian Linggarjati
Perundingan Linggarjati berlangsung pada tanggal 11-15 November 1946, di suatu daerah yang bernama Linggarjati, tepatnya di daerah Cirebon Jawa Barat.

Apa Latar Belakang Perjanjian Linggarjati?


Meskipun Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, namun tidak serta merta terbebas dari kolonialisme penjajah. Konflik kedaulatan masih menjadi permasalahan bagi bangsa Indonesia. Konflik ini dipicu oleh Belanda yang belum mengakui kemerdekaan NKRI.

Pada mulanya tentara sekutu yang tergabung dalam organisasi bersenjata yang bernama AFNEI (Allied Forced Netherlands East Indies) datang ke Indonesia dengan tujuan untuk membalas gencatan senjata tentara Jepang dan membebaskan militan yang ditahan oleh pasukan Jepang.

Selain untuk membebaskan para militan, kedatangan AFNEI ke Indonesia ini juga membonceng pada NICA (Netherands Indies Civil Administration) pasukan sekutu selaku pemenang Asia Timur Raya yang mempunyai ambisi untuk menguasai Indonesia kembali.

Pada tanggal 23 Agustus 1945, pasukan Sekutu beserta NICA mendarat di Aceh Sabang. Kemudian mereka tiba di Jakarta pada 15 September 1945 dibawah pimpinan Van Mook membantu sekutu dalam melucuti tentara Jepang yang masih tersisa.

Jalannya Perundingan Linggarjati

tempat perundingan linggarjati
Gedung Perundingan Linggarjati di Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat
Pada tanggal 11-15 November 1946 merupakan proses Perundingan Linggarjati yang bertempat di Cirebon, Jawa Barat. Dalam prosesi perundingan terjadi ketidak sepahaman antara pihak Indonesia dan pihak Belanda. Setelah selesai melaksanakan perundingan maka Komite Nasional Indonesia Pusat mengesahkan hasil perundingan pada tanggal 25 Februari 1947. Kemudian penandatanganan persetujuan dilakukan pada tanggal 25 Maret 1947 oleh Indonesia dan Belanda.


Tokoh-tokoh Perjanjian Linggarjati


Perjanjian Linggarjati dihadiri oleh tokoh-tokoh diplomat penting perwakilan dari tiga negara, yaitu Indonesia, Belanda dan Inggris sebagai mediator.

  • Dari tokoh diplomat Indonesia diwakili oleh Dr. A.K Gani, Sutan Syahrir, Susanto Tirtoprojo, dan Muhammad Roem. 
  • Sementara dari pihak Belanda yang dipimpin oleh Prof. Schermerhon dengan angotanya yaitu, Max Van Pool, H.J Van Mook dan De Boer.
  • Dalam perjanjian ini Lord Killearn dari Inggris bertugas sebagai penengah dan pemimpin sidang. 

Selain itu juga hadir saksi-saksi dari Bangsa Indonesia seperti Amir Syafrudin, Dr. Leimena, Dr. Sudarsono, Ali Budiarjo serta Presiden dan wakil Presiden RI, Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta.

Isi Perjanjian Linggarjati

Isi Perjanjian Linggarjati
infocirebon.com
Meskipun Perundingan Linggarjati telah berlangsung dari tanggal 11-15 November 1946, namun baru membuahkan hasil dan ditandatangani secara resmi pada tanggal 25 Maret 1947 dalam upacara kenegaraan yang berlangsung di Istana Negara, Jakarta. Penandatanganan hasil perundingan ini dilakukan oleh kedua belah pihak, yaitu Bangsa Indonesia dan Belanda. 

Berikut adalah isi dari Perjanjian Linggarjati :
  1. Belanda mengakui secara de facto atau secara kenyataan wilayah Republik Indonesia, yaitu Jawa, Sumatera dan Madura.
  2. Belanda sudah harus meninggalkan wilayah tersebut paling lambat tanggal 1 Januari 1949.
  3. Belanda dan Indonesia sepakat membentuk negara Republik Indonesia Serikat (RIS) yang terdiri dari wilayah Indonesia, Kalimantan, dan wilayah Timur Besar. Dimana pembentukan negara RIS akan dilakukan sebelum tanggal 1 Januari 1949.
  4. Belanda dan RIS sepakat membentuk Uni Indonesia-Belanda atau negara persemakmuran yang diketuai oleh Ratu Belanda.


Dampak Perjanjian Linggarjati


Dari hasil Perjanjian Linggarjati ini timbul berbagai dampak positif dan dampak negatif terhadap Bangsa Indonesia.

Dampak Positif

  • Citra Indonesia di mata dunia Internasional semakin kuat, dengan pengakuan Belanda terhadap kemerdekaan Indonesia akan mendorong negara-negara lain untuk mengakui kemerdekaan Republik Indonesia secara sah.
  • Belanda mengakui negara Republik Indonesia dengan berkuasa atas Pulau Jawa, Pulau Madura dan juga Pulau Sumatera. Dengan demikian secara de facto atau kenyataan Indonesia berkuasa atas wilayah tersebut.
  • Selesainya konflik antara Belanda dan Indonesia. Pada saat itu dikhawatirkan apabila konfrontasi rakyat Indonesia dan kekuatan Belanda terus berlanjut. Maka akan semakin banyak korban jiwa dari kalangan rakyat. Hal ini tentu saja dikarenakan kekuatan militer Belanda yang canggih dan kekuatan rakyat Indonesia yang apa adanya.


Dampak Negatif

  • Indonesia hanya mendapat wilayah kekuasaan sangat kecil, yakni pulau Jawa, Pulau Sumatera dan Pulau Madura. Selain itu Indonesia harus mengikuti juga persemakmuran Uni Indonesia-Belanda yang diketuai oleh ratu Belanda.
  • Memberikan waktu kepada Belanda dalam membangun kekuatan dan kemudian mereka bisa melakukan agresi militernya.
  • Perjanjian ini juga ditentang oleh berbagai kalangan seperti , masyarakat dan partai politik nasional yaitu, Partai Masyumi, PNI, Partai Rakyat Indonesia dan Partai Rakyat Jelata.
  • Dalam perundingan tersebut Sutan Syahrir sebagai pemimpin dianggap memberikan dukungan pada Belanda. Dimana hal ini membuat anggota dari Partai Sosialis yang berada dalam Kabinet tersebut dan Komite Nasional Indonesia Pusat mengambil langkah untuk menarik dukungan. Penarikan dukungan dilakukan kepada Sutan Syahrir pada tanggal 26 Juni 1947.


Penandatanganan hasil Perjanjian Linggarjati sempat diwarnai dengan pro-kontra. Karena isi dari perjanjian ini dianggap merugikan Bangsa Indonesia dan oleh karena hal ini pemerintah mendapat kritik pedas dari partai nasional seperti Masyumi, PNI, Partai Rakyat Indonesia dan Partai Rakyat Jelata. Mereka menganggap bahwa pemerintahan RI lemah dalam mempertahankan kedaulatan wilayah NKRI.

Akan tetapi, hal ini diklaim sebagai alternatif terbaik dengan cara damai menghadapi Belanda agar menghindari jatuhnya korban. Mengingat kekuatan militer Indonesia pada waktu itu masih berada jauh dibawah militer Belanda. Selain itu, pemerintah juga mengeluarkan PP No. 6/1946 yang bertujuan menambah anggota KNIP agar pemerintah mendapat suara yang cukup untuk mendukung Perundingan Linggarjati. Dan dirasa dengan memilih cara damai, Bangsa Indonesia juga dapat menarik simpati dunia internasional.

Pelanggaran Perjanjian Linggarjati


Pasca pengesahan Perjanjian Linggarjati ini, hubungan antara Indonesia dan Belanda tidaklah menjadi baik karena adanya perbedaan penafsiran dari kedua belah pihak terhadap isi dari perjanjian. Belanda menganggap RI sebagai bagian dari Belanda, sehingga semua urusan eksternal diurus oleh pihak Belanda.

Di sisi lain, Belanda juga menuntut agar dibentuknya pasukan keamanan gabungan yang pada akhirnya pasukan gabungan ini digunakan belanda dalam melancarkan aksi Agresi Militer dan sekaligus membatalkan Perjanjian Linggarjati pada tanggal 20 Juli 1947. Buntut dari memanasnya perseteruan Indonesia-Belanda yaitu meletusnya Agresi Militer Belanda I pada tanggal 21 Juli 1947.

Fakta-fakta lain tentang Perjanjian Linggarjati


Meskipun Perjanjian Linggarjati telah usai dan kini Indonesia telah mencapai usia ke-72 tahun merdeka. Namun banyak fakta-fakta menarik seputar Perjanjian Linggarjati. Berikut ini adalah ulasan mengenai fakta seputar Perundingan Linggarjati yang patut untuk dipelajari :
  1. Perundingan Linggarjati merupakan buntut dari konflik panjang antara Indonesia dan Belanda. Dimana sebelumnya telah dilakukan berbagai perundingan sejak bulan februari 1946.
  2. Lokasi perundingan yaitu Linggarjati, Cirebon diusulkan oleh Maria Ulfah Santoso, yaitu menteri sosial di kala itu. Dengan didasarkan pada titik tengah antara Belanda yang berkuasa di Jakarta dan Pemerintah RI yang berpusat di Jogjakarta.
  3. Delegasi Belanda menginap di kapal perang milik mereka, sedangkan delegasi Indonesia menginap di Linggasama. Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta menginap di Rumah Bupati Kuningan.
  4. Rumah di Linggarjati yang digunakan sebagai lokasi perundingan yaitu milik Kulve van Os, pemilik pabrik semen dan perajin ubin. Kulve van Os adalah orang Belanda yang menikahi orang pribumi bernama Jasitem.
  5. Perjanjian Linggarjati menjadi perjanjian yang berjalan paling lama yaitu dimulai dari bulan februari 1946 dan puncaknya pada tanggal 11-15 November 1946. Serta baru ditandatangani dan disahkan pada tahun 1947.
  6. Perundingan Linggarjati pada hakikatnya merugikan Bangsa Indonesia dan pada akhirnya juga dibatalkan secara sepihak oleh Belanda.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencari mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Bangsa Indonesia. Belajar dari history bangsa bahwa perjuangan dalam merebut kemerdekaan bukanlah merupakan sesuatu yang mudah. 

Dengan mengingat sejarah, generasi muda akan diharapkan mampu meneladani perjuangan pahlawan bangsa dan terus belajar melanjutkan cita-cita para pendahulu bangsa.

0 Response to "Perjanjian Linggarjati | Latar Belakang, Waktu, Tokoh, Isi Dan Dampaknya"

Post a Comment