Kerajaan Islam Di Indonesia Beserta Sejarah Dan Nama Raja-Rajanya

Daftar isi [Tampil]
Kerajaan Islam Di Indonesia - Sebagai salah satu negara berpenduduk mayoritas agama Islam di dunia, Indonesia sebenarnya bukanlah negara yang menganut agama ini pada awalnya. Agama Islam masuk ke Indonesia pada awal abad 16 dengan perantara Wali Songo yang membawa ajarannya dari tanah Arab dan sekitarnya.

Agama penduduk Tanah Air sebelumnya adalah Hindu dan Budha. Namun sejak kedatangan Ajaran Agama Islam, semakin banyak masyarakat yang mempelajari dan memeluk agama baru ini termasuk juga kemudian berdiri kerajaan-kerajaan Islam. Berikut ini adalah Kerajaan Islam di Indonesia beserta sejarah dan nama raja-rajanya.

Kerajaan Islam Di Indonesia

Kerajaan Islam di Sumatera


1. Kerajaan Jeumpa


Kerajaan Jeumpa pada awalnya adalah kerajaan Hindu yang dipimpin oleh Raja turun temurun. Kerajaan ini memiliki hubungan dagang yang baik dengan negara tetangga seperti Cina, Arab, India dan lain sebagainya. Pada sekitar abad 7, datanglah seorang pemuda Islam dari India untuk tujuan berdagang. Karena budi dan perilaku baiknya, banyak masyarakat yang tertarik untuk mempelajari ajaran agama yang dianut oleh pemuda bernama Abdullah ini. Inilah awal mula ajaran Islam mulai berkembang di Sumatera.

Abdullah memutuskan untuk menetap di Jeumpa. Beliau menikah dengan puteri Raja setempat. Setelah ayah mertuanya meninggal, Abdullah dinobatkan menjadi raja dan wilayah kekuasaanya kemudian diberi nama Kerajaan Jeumpa. Berdasarkan catatan yang dikeluarkan oleh Kesultanan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu, Kerajaan Jeumpa tercatat sebagai kerajaan Islam pertama yang berdiri di Indonesia. Kerajaan ini berdiri pada tahun 154 H atau 777 M sampai sekitar tahun 805 M.

2. Kesultanan Peureulak


Kerajaan Peurleulak atau Perlak terletak di wilayah pesisir Timur daerah Aceh. Kerajaan ini lebih dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia dengan struktur organisasi lebih solid.

Kesultanan ini didirikan padah tahun 840 M dan berakhir pada tahun 1292 M. Selain sebagai daerah utama penghasil kayu perlak, wilayah ini berkembang sebagai pelabuhan pusat perdagangan yang disinggahi oleh pedagang dari Cina, Arab dan Persia.

Kesultanan Perlak mengalami beberapa kali pergolakan karena perbedaan aliran agama Islam yaitu antara Syiah dan Sunni. Pergolakan terjadi selama bertahun-tahun dan berakhir dengan kesepakatan perjanjian pembagian wilayah antara kaum Syiah dan Sunni.

Daerah Perlak bagian pesisir dikuasai oleh kaum Syiah di bawah pimpinan Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah, sedangkan Perlak pedalaman di kuasai oleh kaum Sunni dengan pimpinan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat.

Berikut ini adalah beberapa Sultan yang pernah memimpin Perlak, diantaranya adalah :

1. Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Azis Shah (840 – 864)
2. Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Rahim Shah (864 – 888)
3. Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah (888 – 913)
4. Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah (915 – 918)
5. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Shah Johan Berdaulat (928 – 932)
6. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah Johan Berdaulat (932 – 956)
7. Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat (956 – 983)
8. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat [5] (986 – 1023)
9. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat (1023 – 1059)
10. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur Shah Johan Berdaulat (1059 – 1078)
11. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Shah Johan Berdaulat (1078 – 1109)
12. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Shah Johan Berdaulat (1109 – 1135)
13. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat (1135 – 1160)
14. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Usman Shah Johan Berdaulat (1160 – 1173)
15. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Shah Johan Berdaulat (1173 – 1200)
16. Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Jalil Shah Johan Berdaulat (1200 – 1230)
17. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat (1230 – 1267)
18. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (1267 – 1292)

3. Kesultanan Samudera Pasai


Kesultanan Samudera Pasai adalah kerajaan yang selama ini kita kenal sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia sebelum munculnya penemuan tentang kerajaan Jeumpa dan kerajaan Perlak. Letak Kesultanan Samudera Pasai adalah di pesisir pantai utara Sumatera. Menurut catatan sejarah, Samudera Pasai didirikan pada tahun 1267 M dan jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1521 M yang sekaligus sebagai penanda keruntuhannya.

Banyak pencapaian yang telah diraih oleh Kesultanan Samudera Pasai seperti contohnya adalah penetapan uang koin emas sebagai alat tukar, kesejahteraan rakyat cukup terjamin dan kemajuan perniagaan.

Masa kejayaan Kesultanan Samudera Pasai dialami ketika kepemimpinan Ratu Nahrasyiyah pada tahun 1406 sampai 1428 M. Pada masa menjelang berakhirnya kesultanan ini, Samudera Pasai mengalami perang saudara yang melibatkan Sultan Malaka. Perang saudara ini berakhir ketika Kesultanan Samudera Pasai jatuh ke tangan Portugis.

Berikut ini adalah Sultan-sultan yang pernah memimpin, yaitu :

1. Sultan Malik as-Saleh (Meurah Silu) (1267-1297)
2. Sultan Al-Malik azh-Zhahir I / Muhammad I (1297-1326)
3. Sultan Ahmad I (1326-1336)
4. Sultan Al-Malik azh-Zhahir II (1336-1349)
5. Sultan Zainal Abidin I (1349-1406)
6. Ratu Nahrasyiyah (1406-1428)
7. Sultan Zainal Abidin II (1428-1438)
8. Sultan Shalahuddin (1438-1462)
9. Sultan Ahmad II (1462-1464)
10. Sultan Abu Zaid Ahmad III (1464-1466)
11. Sultan Ahmad IV (1466-1466)
12. Sultan Mahmud (1466-1468)
13. Sultan Zainal Abidin III (1468-1474)
14. Sultan Muhammad Syah II (1474-1495)
15. Sultan Al-Kamil (1495-1495)
16. Sultan Adlullah (1495-1506)
17. Sultan Muhammad Syah III (1506-1507)
18. Sultan Abdullah (1507-1509)
19. Sultan Ahmad V (1509-1514)
20. Sultan Zainal Abidin IV (1514-1517)

4. Kesultanan Lamuri


Terletak di daerah Kabupaten Aceh Besar, Kesultanan Lamuri merupakan cikal bakal kesultanan Aceh Darussalam. Pada mulanya, Kesultanan Lamuri bukanlah kerajaan Islam namun penganut agama Hindu.

Hal ini bisa terlihat dari beberapa artefak peninggalan kerajaan ini yang menggambarkan agama Hindu. Islam masuk melalui jalan perdagangan, dibawa oleh para pedagang dari negara Timur Tengah dan akhirnya dianut oleh sebagian besar penduduk.

Kesultanan Lamuri dipimpin oleh 10 orang raja dengan 8 raja bergelar Malik dan 2 raja bergelar Sultan. Hal ini diketahui dari tulisan yang ada di batu nisan yang dikumpulkan dari 17 komplek pemakaman. Mereka adalah :

1. Malik Syamsuddin (wafat 822 H/1419 M)
2. Malik 'Alawuddin (wafat 822 H/1419 M)
3. Muzhhiruddin. Diperkirakan seorang raja, tanggal wafat tidak diketahui.
4. Sultan Muhammad bin 'Alawuddin (wafat 834 H/1431 M)
5. Malik Nizar bin Zaid (wafat 837 H/1434 M)
6. Malik Zaid (bin Nizar) (wafat 844 H/1441 M)
7. Malik Jawwaduddin (wafat 842 H/1439 M)
8. Malik Zainal 'Abidin (wafat 845 H/1442 M)
9. Malik Muhammad Syah (wafat 848 H/1444 M)
10. Sultan Muhammad Syah (wafat 908 H/1503 M)

5. Kerajaan Pedir/Pidie


Kerajaan Pidie adalah pecahan dari Kerajaan Sama Indra yang pada waktu itu masih menganut ajaran agama Hindu. Kerajaan Sama Indra mengalami banyak goncangan dan perubahan karena pengaruh Kerajaan Aceh Darussalam, dan akhirnya penduduk Sama Indra lama kelamaan memeluk agama Islam. Pada pertengahan abad ke 14, kerajaan Sama Indra berganti nama menjadi Kerajaan Pidie dan otonom berada di bawah Kerajaan Aceh Darussalam.

Berikut ini adalah beberapa Sultan yang memerintah pada awal berdirinya Kerajaan Pidie, yaitu :

1. Maharaja Sulaiman Noer
2. Maharaha Sjamsu Syah
3. Maharaja Malik Ma’roef Syah
4. Maharaja Ahmad Sjah
5. Maharaja Husain Syah, dan seterusnya.

6. Kerajaan Daya


Di hulu sungai Daya Aceh Jaya, hiduplah sekelompok orang yang belum beragama di daerah yang disebut Lhan Na atau Lam No. Kerajaan Daya berdiri sekitar tahun 1480 M. Raja pertamanya adalah Sultan Salathin Alaidin Syah atau yang lebih dikenal dengan nama Po Teumeureuhom atau Cik Po Kandang. Kerajaan ini merupakan gabungan para pengungsi dari kerajaan Indrajaya yang menghindari serangan negeri China.

Selama 12 tahun memimpin kerajaan Daya, Sultan Salathin Alaidin Syah membawa kesejahteraan dan kejayaan bagi rakyatnya. Banyak sekali pencapaian yang telah diraih seperti meningkatkan hasil pertanian, mencetak generasi muda sebagai tentara pembela negeri dan mendirikan pondok untuk mengajarkan agama Islam.

Berikut ini adalah daftar sultan Kerajaan Daya, yaitu :

1. Sultan Salathin Alaidin Syah
2. Raja Unzir
3. Puteri Nurul Huda atau Siti Hur

7. Kesultanan Aceh


Kesultanan ini didirikan pada tahun 1496 dengan Sultan pertama adalah Sultan Ali Mughayat Syah. Kesultanan Aceh merupakan perpaduan dari Kerajaan Islam sebelumnya seperti Daya, Pidie, Nakur dan Lidie. Berdiri di wilayah Kerajaan Lamuri, Kesultanan Aceh mengalami masa kejayaan dengan berhasil melakukan ekspansi memperluas daerah kekuasaan.

Kesultanan ini jugalah yang paling vocal menentang ideologi imperialis yang dibawa oleh bangsa Eropa dengan tidak pernah takluk dan terus berjuang melawan kedatangan bangsa Eropa yang bertujuan menjajah.

Berikut ini adalah 10 Sultan yang pernah memegang tahta pada awal Kesultanan Aceh, diantaranya adalah :

1. Sultan Ali Mughayat Syah bin Sultan Syamsu Syah (1496-1528)
2. Sultan ‘Adilullah bin Munawwar Syah (1528-1540)
3. Sultan ‘Ali Ri’ayah Syah bin Munawwar Syah (1540)
4. Sultan Salahuddin bin Ali Malik az Zahir (1530-1537)
5. Sultan Alauddin bin Ali Malik az Zahir (1537-1568)
6. Sultan Ali bin Alauddin Malik az Zahir (1568-1575)
7. Sultan Muda (1575)
8. Sultan Sri Alam (1575-1576)
9. Sultan Zainal Abidin ibn Abdullah (1576-1577)
10. Sultan Alauddin Mansur Syah ibn Ahmad (1577-1589)

8. Kesultanan Indrapura


Indrapura adalah kerajaan yang berada di pesisir selatan wilayah Sumatera Barat. Kerajaan Indrapura merupakan kerajaan yang tunduk kepada Kerajaan Pagaruyung, namun pada praktiknya mereka mengatur sendiri urusan kekerajaannya. Kesultanan Indrapura mulai menjadi mandiri sejak tahun 1550 dan dipimpin oleh Sultan Munawar Syah atau Raja Mamulia.

Tercatat ada 11 Raja yang pernah memimpin kesultanan Indrapura sejak tahun 1550 hingga 1790. Berikut ini diantaranya.

1. Sultan Munawar Syah atau Raja Mamulia (1550)
2. Raja Dewi atau Putri Rekna Candra Dewi (1580)
3. Raja Itam (1616)
4. Raja Besar (1624)
5. Raja Puti atau Putri Rekna Alun (1625)
6. Sultan Muzzaffar Syah Raja Malfarsyah (1633)
7. Sultan Muhammad Syah (1660)
8. Sultan Mansur Syah (1691)
9. Raja Pesisir (1696)
10. Raja Pesisir II (1760)
11. Raja Pesisir III (1790)

9. Kerajaan Pagaruyung


Kerajaan Pagaruyung telah ada sejak tahun 1347 dengan raja pertama adalah Adityawarman yang memproklamirkan dirinya sebagai Maharajadiraja. Raja Aditya memeluk ajaran Hindu. Setelah beliau wafat, tampuk kekuasaan jatuh ke tangan anaknya yang bernama Ananggawarman.

Raja Ananggawarma memerintah sampai sekitar tahun 1417. Pada tahun 1409 dan 1411, Kerajaan Majapahit menyerang Pagaruyung dan menyebabkan melemahnya kekuatan Pagaruyung. Sejak itu belum diketahui lagi siapa yang memimpin kerajaan ini.

Selang 300 tahun kemudian atau sekitar abad 17, diketahui kerajaan Pagaruyung mulai memeluk agama Islam. Rajanya menggunakan gelar Yang Dipertuan Pagaruyung. Berikut ini adalah beberapa daftarnya.

1. Ahmadsyah (1674)
2. Indermasyah (1730)
3. Muningsyah (1821)
4. Bagagarsyah (1833)

10. Kerajaan Siguntur


Kerajaan Siguntur berdiri sejak tahun 1275 M dipimpin oleh Sri Buana Raya Mauliawarmadewa. Pada mulanya, kerajaan Siguntur memeluk agama Hindu Budha. Hingga pada abad ke 14, kerajaan ini mulai menganut agama Islam dan selanjutnya kekuasaan dipegang oleh raja muslim.

Diantaranya adalah :

1. Abdul Jalil Sutan Syah (1575-1650)
2. Sultan Abdul Qadir (1650-1727)
3. Sultan Amiruddin (1727-1864)
4. Sultan Ali Akbar (1864-1914)
5. Sultan Abu Bakar (1914-1968)

Kerajaan Islam di Jawa


1. Kesultanan Cirebon


Kerajaan Cirebon adalah salah satu kerajaan Islam yang cukup terkemuka di Indonesia khususnya daerah Jawa Barat. Kerajaan ini menjadi titik pusat perdagangan dan transportasi laut antar pulau. Kerajaan ini mengalami masa keemasannya pada abad ke 15 hingga 16 M. Berdiri pada tahun 1430 M dan mulai mengalami kemunduran pada 1677 M hingga akhirnya runtuh.

Kesultanan Cirebon merupakan pusat pengajaran dan pendidikan agama Islam. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya peninggalan dan warisan budaya islami dari kerajaan ini. Puluhan naskah peninggalan yang menceritakan tentang sastra, sejarah, silsilah, wayang, ajaran agam dan doa-doa merupakan salah satu dari sekian banyak dari peninggalan-peninggalan yang tersisa.

Kesultanan Cirebon sedari awal sudah berlandaskan ajaran agama Islam. Raja pertamanya adalah Sultan Cirebon I Pangeran Walangsungsang adalah keturunan dari Nyi Subanglarang yang beragama Islam. Keislaman kerajaan Cirebon ini semakin diperkuat oleh Raja keturunan keduanya yang juga merupakan salah satu dari Wali Songo yaitu Sunan Gunung Jati. Jadi, tidak heran jika Kesultanan Cirebon menjadi pusat kebudayaan dan pendidikan agama di wilayah Jawa Barat.

Berikut ini adalah beberapa Raja yang pernah memegang tampuk kekuasaan di Kerajaan Cirebon, diantaranya adalah :

1. Sultan Cirebon I Pangeran Walangsungsang (1430-1479)
2. Syarif Hidayatullah / Sunan Gunung Jati (1479-1568)
3. Fatahillah (1568-1570)
4. Sultan Zainul Arifin / Panembahan Ratu I (1570-1649)
5. Sultan Abdul Karim / Panembahan Girilaya (1649-1677)

2. Kesultanan Demak


Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam di Jawa dan merupakan yang paling besar di daerah pantai utara Pulau Jawa. Kerajaan Demak berdiri di atas peninggalan kerajaan Majapahit sebagai kekuatan baru. sejak tahun 1475 M sampai 1554 M.

Sebagai penanda berdirinya kerajaan Demak, didirikan kota pelabuhan Demak yang sampai sekarang ini menjadi kota Demak di daerah Jawa Tengah dan memiliki peninggalan Masjid Agung Demak yang terkenal sebagai salah satu pusat pengajaran dan penyebaran agama Islam oleh Wali Songo.

Kerajaan ini meskipun terbilang cukup besar, namun tidak berlangsung lama. Perebutan kekuasaan terus terjadi sehingga menyebabkan perpecahan di antara pejabat dan pembesar kerajaan Demak.

Berikut ini adalah daftar raja-raja yang pernah berkuasa di kerajaan ini, yaitu :

1. Raden Fatah (1475-1518)
2. Pati Unus (1518-1521)
3. Trenggana (1521-1546)
4. Sunan Prawata (1546-1547)
5. Arya Penangsang (1547-1554)

3. Kesultanan Banten


Berpusat di Tatar Pasunda Banten, Kesultanan Banten mengukuhkan kekuasaannya pada 1526 M sampai dengan 1813 M. Kerajaan Banten berdiri atas sumbangsih kesultanan Cirebon dan kesultanan Demak yang mencoba memperluas kekuasaan dan pengaruhnya hingga ke wilayah pesisir barat pulau Jawa. Kerajaan Banten terkenal dengan pasukan Maritimnya yang sangat tangguh dan kuat. Mereka juga mengandalkan perdagangan sebagai kekuatan perekonomiannya.

Kerajaan Banten berkuasa cukup lama yaitu sekitar 3 abad. Kesultanan Banten berdiri secara mandiri sejak raja pertamanya yaitu Sultan Maulana Hasanuddin ditasbihkan menjadi sultan di kerajaan Banten. Dalam 3 abad masa kekuasaannya, kerajaan Banten tidak pernah sedikitpun bergeming atas serangan bangsa Eropa hingga akhirnya kerajaan ini runtuh oleh pengaruh yang dibawa oleh Hindia Belanda.

Berikut ini adalah beberapa Sultan yang pernah berkuasa di Kerajaan Banten.

1. Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570)
2. Sultan Maulana Yusuf (1570-1585)
3. Sultan Maulana Muhammad (1585-1596)
4. Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdulkadir (1596-1647)
5. Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad (1647-1651)
6. Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683)
7. Sultan Abu Nashar Abdul Qahar (1683-1687)
8. Sultan Abu al-Fadhl Muhammad Yahya (1687-1690)
9. Sultan Abu al-Mahasin Muhammad Zainulabidin (1690-1733)
10. Sultan Abdullah Muhammad Syifa Zainularifin (1733-1750)
11. Sultan Syarifuddin Ratu Wakil2 (1750-1752)
12. Sultan Abu al-Ma’ali Muhammad Wasi (1752-1753)
13. Sultan Abu al-Nasr Muhammad Arif Zainulasyiqin (1753-1773)
14. Sultan Aliyuddin I (1773-1799)
15. Sultan Muhammad Muhyiddin Zainussalihin (1799-1801)
16. Sultan Muhammad Ishaq Zainulmuttaqin (1801-1802)
17. Sultan Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)
18. Sultan Aliyuddin II (1803-1808)
19. Sultan Wakil Pangeran Suramenggala (1808-1809)
20. Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin (1809-1813)

4. Kesultanan Pajang


Kesultanan Pajang merupakan kelanjutan dari Kerajaan Demak. Meneruskan pemerintahan yang dimulai pada tahun 1568 M sampai dengan 1586 M. Hanya dalam kurun waktu kurang dari 30 tahun, kesultanan ini mengalami keruntuhan karena terjadi perebutan kekuasaan antara raja Hadiwijaya dan menantunya.

Hanya sempat memiliki 3 raja berkuasa, Kesultanan Pajang kemudian jatuh ke tangan Kesultanan Mataram Islam.

Inilah daftar ketiga raja tersebut.

1. Sultan Hadiwijaya / Jaka Tingkir (1568-1583)
2. Sultan Ngawantiputra / Arya Pangiri (1583-1586)
3. Sultan Prabuwijaya / Pangeran Benawa (1586-1587)

5. Kesultanan Mataram Islam


Muncul sejak abad ke 17, Kerajaan Mataram Islam berbeda dengan kerajaan Mataram Kuno. Mataram Islam menganut agama Islam sedangkan Mataram Kuno memeluk agama Hindu. Mataram Islam dipimpin oleh keturunan Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Pamanahan. Kesultanan ini adalah kesultanan yang paling rajin melawan VOC dan pihak Belanda.

Kekuatannya bahkan sempat menyatukan tanah jawa untuk melawan penjajah. Lagi-lagi karena faktor pemberontakan, Kerajaan Mataram Islam runtuh karena perpecahan dari dalam sekaligus rongrongan dari pihak VOC.

Berikut ini adalah daftar Sultan penguasa Mataram Islam yaitu :

1. Ki Ageng Pamanahan (1556-1584)
2. Panembahan Senapati (1584-1601)
3. Raden Mas Jolang (1601-1613)
4. Raden Mas Rangsang (1613-1646)
5. Amangkurat I (1646-1676)
6. Amangkurat II (1677-1703)

Kerajaan Islam di Kalimantan


1. Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura


Kesultanan Kutai merupakan salah satu kesultanan yang bercorak agama Islam di daerah Kutai Lama. Kerajaan ini didirikan pada tahun 1300 an olej Aji Batara Agung Dewa Sakti. Kerajaan ini meninggalkan banya sekali warisan budaya seperti singgasana, arca, perhiasan, perlengkapan perang, tempat tidur, seperangkat gamelan, koleksi keramik kuno dari China, dan lain-lain.

Kerajaan ini dipimpin oleh :

1. 1300-1325 Aji Batara Agung Dewa Sakti
2. 1325-1360 Aji Batara Agung Paduka Nira
3. 1360-1420 Aji Maharaja Sultan
4. 1420-1475 Aji Raja Mandarsyah
5. 1475-1545 Aji Pangeran Tumenggung Bayabaya
6. 1545-1610 Aji Raja Mahkota Mulia Alam
7. 1610-1635 Aji Dilanggar
8. 1635-1650 Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa ing Martapura
9. 1650-1665 Aji Pangeran Dipati Agung ing Martapura
10. 1665-1686 Aji Pangeran Dipati Maja Kusuma ing Martapura, dan seterusnya.

Kerajaan Islam di Sulawesi


1. Kesultanan Gowa


Kerajaan ini adalah kerajaan yang paling sukses di daerah Sulawesi Selatan. Raja yang paling terkenal adalah Sultan Hasanuddin karena melakukan peperangan dengan gencar melawan VOC. Kerajaan Gowa menganut ajaran agama Islam sejak abad ke 15. Raja pertama yang memeluk agama Islam adalah I Mangari Daeng Manrabbia Sultan Alauddin I Tuminanga ri Gaukanna yang berkuasa pada tahun 1593 sampai 1639.

Sejarah mencatat, kerajaan Gowa memiliki 36 penguasa sebelum akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Bangsa Indonesia. Daftar panjang penguasa kerajaan Gowa membuktikan bahwasanya kerajaan ini termasuk salah satu kerajaan yang sangat kuat di Indonesia. Kekuatan utamanya adalah pada pasukan Maritimnya.

Berikut ini daftar para penguasa Kesultanan Gowa yang tersohor itu.

1. Tumanurung Bainea ( sekitar tahun 1300)
2. Tumassalangga Baraya
3. Puang Loe Lembang
4. I Tuniatabanri
5. Karampang ri Gowa
6. Tunatangka Lopi ( sekitar tahun 1400)
7. Batara Gowa Tuminanga ri Paralakkenna
8. Pakere Tau Tunijallo ri Passukki
9. Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna (awal abad ke-16)
10. I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiyung Tunipallangga Ulaweng (1546-1565)
11. I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatte
12. I Manggorai Daeng Mameta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo (1565-1590)
13. I Tepukaraeng Daeng Parabbung Tuni Pasulu (1593)
14. I Mangari Daeng Manrabbia Sultan Alauddin I Tuminanga ri Gaukanna (1593-1639) yang juga penguasa Gowa pertama yang memeluk agama Islam
15. I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Malikussaid Tuminanga ri Papang Batuna (1605-1639)
16. I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin Tuminanga ri Balla'pangkana (1653-1669)
17. I Mappasomba Daeng Nguraga Sultan Amir Hamzah Tuminanga ri Allu' (1669-1674)
18. Sultan Mohammad Ali (Karaeng Bisei) Tumenanga ri Jakattara (1674-1677)
19. I Mappadulu Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone Sultan Abdul Jalil Tuminanga ri Lakiyung. (1677-1709)
20. La Pareppa Tosappe Wali Sultan Ismail Tuminanga ri Somba Opu (1709-1711)
21. I Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminang ri Pasi
22. I Manrabbia Sultan Najamuddin
23. I Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminang ri Pasi, Menjabat dua kali
24. I Mallawagau Sultan Abdul Chair (1735-1742)
25. I Mappibabasa Sultan Abdul Kudus (1742-1753)
26. Amas Madina Batara Gowa (diasingkan oleh Belanda ke Sri Lanka) (1747-1795)
27. I Mallisujawa Daeng Riboko Arungmampu Tuminanga ri Tompobalang (1767-1769)
28. I Temmassongeng Karaeng Katanka Sultan Zainuddin Tuminanga ri Mattanging (1770-1778)
29. I Manawari Karaeng Bontolangkasa (1778-1810)
30. I Mappatunru / I Mangijarang Karaeng Lembang Parang Tuminang ri Katangka (1816-1825)
31. La Oddanriu Karaeng Katangka Tuminanga ri Suangga (1825-1826)
32. I Kumala Karaeng Lembang Parang Sultan Abdul Kadir Moh Aidid Tuminanga ri Kakuasanna (1826 - 1893)
33. I Malingkaan Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Idris Tuminanga ri Kalabbiranna (1893 - 1895)
34. I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang Sultan Husain Tuminang ri Bundu'na (1895-1906)
35. I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bonto Nompo Sultan Muhammad Tahur Muhibuddin Tuminanga ri Sungguminasa (1936-1946)
36. Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin (1946-1978)

2. Kesultanan Buton


Kerajaan ini pada awalnya tidak memeluk agama Islam. Kedatangan Syaid Jamaluddin al Kubra di pulau Buton, membuat Sultan Buton pada saat itu tertarik dan ingin memeluk agama Islam. Raja tersebut adalah Raja Mulae Sangia i-Gola. Kesultanan ini secara resmi menganut agama Islam sejak abad ke 6.

Kesultanan Buton merupakan sebuah kerajaan yang sangat kuat dan pernah mencapai posisi yang gemilang. Hal ini terlihat dari peninggalannya yang berupa benteng dan kubu pertahanan. Berikut ini adalah beberapa sultan yang pernah memimpin Buton menuju kejayaan, yaitu :

1. 1491-1537: Sultan Murhum
2. 1545-1552: Sultan La Tumparasi
3. 1566-1570: Sultan La Sangaji
4. 1578-1615: Sultan La Elangi
5. 1617-1619: Sultan La Balawo
6. 1632-1645: Sultan La Buke
7. 1645-1646: Sultan La Saparagau
8. 1647-1654: Sultan La Cila
9. 1654-1664: Sultan La Awu
10. 1664-1669: Sultan La Simbata
11. 1669-1680: Sultan La Tangkaraja, dan seterusnya

Kerajaan Islam di Maluku


1. Kesultanan Ternate


Kesultanan Ternate berdiri pada tahun 1257 dan merupakan kerajaan Islam tertua di Indonesia. Kesultanan Ternate memegang peranan penting di wilayah Indonesia bagian Timur. Berkat perdagangan rempahnya yang maju, kesultanan ini mencapai masa keemasannya.

Agama Islam dibawa ke Ternate pada abad ke 15 dan diserap secara keseluruhan oleh kesultanan dengan menjalankan syariat Islam sepenuhnya.

 Berikut ini adalah daftar raja semenjak Islam diberlakukan di kesultanan Ternate, yaitu :

1. Marhum (Gapi Baguna II) / 1432 - 1486
2. Zainal Abidin / 1486 - 1500
3. Sultan Bayanullah / 1500 - 1522
4. Hidayatullah / 1522 - 1529
5. Abu Hayat II / 1529 - 1533
6. Tabariji / 1533 - 1534
7. Khairun Jamil / 1535 - 1570
8. Babullah Datu Syah / 1570 - 1583
9. Said Barakat Syah / 1583 - 1606
10. Mudaffar Syah I / 1607 - 1627
11. Hamzah / 1627 – 1648, dan seterusnya

2. Kesultanan Tidore


Menjadi saalah satu kerajaan Islam di Maluku, Kesultanan Tidore memiliki pusat pemerintahan di kota Tidore Maluku Utara. Kerajaan ini berdiri sejak tahun 1081 sampai 1950 dan kemudian bersatu dengan Negara Indonesia. Kerajaan Tidore sempat mengalami masa kejayaan yaitu pada abad ke 16 sampai abad 18. Kekuasaannya semakin meluas mulai dari Tidore hingga ke Papua Barat.

Kerajaan Tidore juga menjadi salah satu kerajaan yang menentang penjajahan VOC. Namun demikian, VOC masih bisa mencari celah untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Tidore.

Berikut ini adalah Raja Tidore yang pernah berkuasa, diantaranya adalah :

1. Kolano Syahjati alias Muhammad Naqil bin Jaffar Assidiq
2. Kolano Bosamawange
3. Kolano Syuhud alias Subu
4. Kolano Balibunga
5. Kolano Duko adoya
6. Kolano Kie Matiti
7. Kolano Seli
8. Kolano Matagena
9. Kolano Nuruddin (1334-1372)
10. Kolano Hasan Syah (1372-1405)
11. Sultan Ciriliyati alias Djamaluddin (1495-1512)
12. Sultan Al Mansur (1512-1526)
13. Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnain (1526-1535)
14. Sultan Kiyai Mansur (1535-1569)
15. Sultan Iskandar Sani (1569-1586)
16. Sultan Gapi Baguna (1586-1600)
17. Sultan Mole Majimo alias Zainuddin (1600-1626)
18. Sultan Ngora Malamo alias Alauddin Syah (1626-1631)
19. Sultan Gorontalo alias Saiduddin (1631-1642)
20. Sultan Saidi (1642-1653)
21. Sultan Mole Maginyau alias Malikiddin (1653-1657)
22. Sultan Saifuddin alias Jou Kota (1657-1674)
23. Sultan Hamzah Fahruddin (1674-1705)
24. Sultan Abdul Fadhlil Mansur (1705-1708)
25. Sultan Hasanuddin Kaicil Garcia (1708-1728)
26. Sultan Amir Bifodlil Aziz Muhidin Malikul Manan (1728-1757)
27. Sultan Muhammad Mashud Jamaluddin (1757-1779)
28. Sultan Patra Alam (1780-1783)
29. Sultan Hairul Alam Kamaluddin Asgar (1784-1797)
30. Sultan Syaidul Jehad Amiruddin Syaifuddin Syah Muhammad (1797-1805)
31. Sultan Zainal Abidin (1805-1810)
32. Sultan Motahuddin Muhammad Tahir (1810-1821)
33. Sultan Achmadul Mansur Sirajuddin Syah (1821-1856)
34. Sultan Achmad Syaifuddin Alting (1856-1892)
35. Sultan Achmad Fatahuddin Alting (1892-1894)
36. Sultan Achmad Kawiyuddin Alting alias Shah Juan (1894-1906)
37. Sultan Zainal Abidin Syah (1947-1950)

Itulah beberapa daftar kerajaan Islam di Indonesia beserta sejarah dan nama rajanya. Daftar di atas belum meliputi seluruh kerajaan Islam di Nusantara ini karena ternyata Indonesia memiliki banyak sekali kerajaan kecil yang juga telah menganut agama Islam.

0 Response to "Kerajaan Islam Di Indonesia Beserta Sejarah Dan Nama Raja-Rajanya"

Post a Comment