Pengertian Paragraf: Fungsi, Ciri-Ciri, Jenis-Jenis dan Contohnya [Lengkap]

Daftar isi [Tampil]

Pengertian Paragraf Adalah


Dalam penyusunan tulisan, paragraf menjadi istilah yang paling sering digunakan. Namun, apa sih sebenarnya arti dari paragraf sendiri? Jika dilihat melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian paragraf adalah sebuah bagian bab atau alinea dalam suatu penulisan karangan di mana biasanya mengandung ide pokok tersendiri.

Pada sebuah penulisan paragraf akan dimulai dengan garis baru atau alinea. Jika disimpulkan, maka paragraf merupakan kumpulan gagasan ide atau pemikiran yang lebih luas dari sebuah kalimat. Biasanya memang berupa beberapa kalimat yang membahas ide pokok tertentu yang berisi ide pokok hingga kalimat penjelas atau pendukung.
Pengertian Paragraf
pixabay.com


Pengertian Paragraf Menurut Ahli


Pengertian paragraf menurut para ahli bahasa pun tak jauh berbeda, antara lain:

1. Akhadiah 

Menyatakan bahwa paragraf merupakan sebuah inti penaungan ide pokok dalam sebuah pemikiran. Menurutnya, pada sebuah paragraf terkandung sebuah pemikiran yang didukung oleh kalimat-kalimat yang ada pada paragraf itu sendiri.

Susunan kalimat yang ada dalam paragraf, antara lain: kalimat pengenal, topik atau kalimat utama, kalimat penjelas, hingga kalimat penutup. Himpunan beberapa kalimat tersebut saling bersinambung atau berkaitan satu sama lain membentuk suatu gagasan pokok, yaitu paragraf.

2. Seorang Ahli bahasa, Ramlan dalam buku “Bahasa Indonesia untuk Karya Ilmiah” (Rohmadi dan Nasucha, 2010: 23)

Mengartikan paragraf bagian dari suatu karangan atau tulisan yang terdiri dari sejumlah kalimat di mana mengungkapkan satu kesatuan informasi dengan sebuah ide pokok. Dalam hal ini, maka bisa disimpulkan bahwa Ramlan memandang sebuah paragraf selalu memiliki ide pokok tersendiri yang dijadikan inti dari informasi.

3. Sedangkan Wiyanto dalam buku berjudul “Terampil Menulis Paragraf ” 

Menyatakan, bahwa paragraf adalah sekelompok kalimat yang saling berhubungan dan terkait untuk menjelaskan satu pokok pikiran tertentu. Pada penulisan paragraf, penulis merangkai kalimat demi kalimat untuk menyampaikan satu pokok pikiran, kemudian paragraf demi paragraf untuk menyampaikan keseluruhan pokok pikiran.

Melalui beberapa pengertian para ahli di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa paragraf merupakan sekumpulan kalimat yang terkait dan menyampaikan ide pokok tertentu.

Ciri-Ciri Paragraf

Ciri-Ciri Paragraf
pixabay
Namun, untuk mengetahui pengertian paragraf lebih dalam lagi, maka kamu juga perlu mempelajari berbagai ciri-ciri, fungsi, hingga jenis-jenis paragraf. Oleh karena itu, berikut akan dijelaskan mengenai paragraf dengan lebih detail.

Ada beberapa ciri-ciri paragraf menurut Widjono Hs dalam buku “Bahasa Indonesia: Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi”, antara lain:
  1. Format kalimat pertama biasanya ditulis menjorok dalam lima ketukan spasi atau dalam satu tab.
  2. Paragraf menggunakan gagasan utama atau ide pokok di mana dinyatakan dalam sebuah kalimat topik.
  3. Setiap paragraf biasa berisi satu kalimat topik utama yang berisi ide pokok gagasan.
  4. Selain berisi satu kalimat yang mengandung topik utama, paragraf juga menggunakan beberapa gagasan penjelas (pikiran penjelas) di mana dinyatakan dalam kalimat penjelas. Kalimat penjelas ini berfungsi untuk menguraikan, menjelaskan, dan mendeskripsikan pemikiran utama secara lebih detail. Setiap kalimat penjelas berisi detail pemikiran yang lebih spesifik dan tidak mengulang isi atau pikiran dalam kalimat penjelas lainnya. Artinya, setiap kalimat penjelas memiliki detail atau spesifikasi yang berbeda-beda.

Fungsi Paragraf

Fungsi Paragraf
pixabay
Selain memiliki ciri-ciri tertentu, paragraf juga memiliki fungsi dalam tersendiri dalam sebuah penulisan atau karangan. Secara umum, dengan adanya paragraf seorang penulis dapat menulis karya secara lengkap, utuh, dan sistematis.

Untuk lebih detailnya, berikut adalah fungsi paragraf:

  1. Dapat mengekspresikan suatu gagasan atau pemikiran penulis melalui serangkaian kalimat yang disusun dengan logis dan sistematis dalam satu kesatuan. 
  2. Menunjukkan pergantian atau peralihan gagasan baru dalam sebuah karangan. Ketika berganti paragraf maka sering kali gagasan pikiran akan berganti.
  3. Dapat memudahkan penulis untuk mengorganisir gagasan agar lebih sistematis. Hal ini penting dilakukan karena penulisan yang sistematis juga akan memudahkan untuk pembaca. 
  4. Memudahkan penulis dalam mengembangkan topik karangan yang luas dalam satu kesatuan unit pemikiran yang lebih sempit dalam bentuk paragraf. 
  5. Membantu penulis untuk mengendalikan variabel-variabel karangan yang terdiri dari beberapa variabel. 

Jenis-jenis Paragraf


Pada penulisan karangan, ada beberapa jenis-jenis paragraf berdasarkan letak gagasan pokok, fungsi, dan tujuannya. Berikut adalah penjelasan detail mengenai jenis-jenis paragraf yang bisa kamu pelajari sebelum menulis sebuah karangan, antara lain:
jenis-jenis paragraf
pixabay


Jenis Paragraf Berdasarkan Letak Gagasan Utama


Pada pembuatan paragraf, letak gagasan utama bisa berada di berbagai tempat-tempat tertentu tergantung jenis paragraf yang akan digunakan. Jenis paragraf berdasarkan letak gagasan utamanya, antara lain:

1. Paragraf Deduktif

Paragraf deduktif sendiri merupakan paragraf yang meletakkan kalimat atau topik utama pada bagian awal paragraf. Pada jenis ini, gagasan utama diletakkan pada kalimat pertama, kemudian disusul dengan gagasan-gagasan penjelas di kalimat-kalimat berikutnya.

Contoh paragraf deduktif:

“Pariwisata menjadi salah satu unggulan Daerah Istimewa Yogyakarta. Bukan hanya pariwisata budaya, di daerah tersebut juga banyak tersaji wisata alam dan wisata festival yang mengagumkan. Pada wisata alam, ada rangkaian pantai, Gunung Merapi, hingga perkebunan. Sedangkan festival budaya dan kuliner juga sering dilakukan tiap bulannya.”

2. Paragraf Induktif

Berbanding terbalik dengan paragraf deduktif, paragraf induktif meletakkan gagasan utama di akhir paragraf atau di kalimat terakhir.

Contoh paragraf deduktif:

“Pariwisata menjadi hal yang cukup marak belakangan ini, tak mengherankan jika banyak wilayah yang mengembangkan sektor tersebut. Pariwisata sendiri terdiri dari pariwisata budaya, kuliner, festival, hingga wisata alam. Sektor pariwisata nyatanya juga dikembangkan di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai salah satu sektor unggulan daerah tersebut.”

3. Paragraf Deduktif-Induktif

Paragraf Deduktif-Induktif atau disebut juga paragraf campuran meletakkan kalimat utama yang berbeda pada kalimat awal dan kalimat akhir pada paragraf. Pada jenis paragraf ini, terdapat dua kalimat utama.

Contoh Paragraf Deduktif-Induktif:

“Sektor pariwisata telah menjadi salah satu unggulan Daerah Istimewa Yogyakarta. Di daerah dengan otonomi khusus tersebut terdapat berbagai macam pariwisata, mulai dari budaya, sejarah, alam, hingga festival. Dengan kekayaan alam dan budaya yang tersaji, tak mengherankan jika kota istimewa tersebut sering kali disebut sebagai wisata”

4. Paragraf ineratif

Paragraf ineratif merupakan paragraf yang gagasan utamanya terdapat pada bagian tengah paragraf.


Jenis Paragraf Berdasarkan Tujuan Penulisan


Setiap tulisan memiliki tujuan tersendiri untuk menyampaikan gagasan pikiran penulisnya. Setidaknya ada lima jenis paragraf berdasarkan tujuan penulis, antara lain:

1. Paragraf Deskripsi

Paragraf deskripsi adalah paragraf yang bertujuan untuk menggambarkan secara terperinci dan jelas suatu topik atau gagasan. Penulis biasanya akan menulis paragraf deskripsi sedetail dan seruntun mungkin agar pembacanya memahami dengan baik. Selain itu, paragraf ini bertujuan membuat pembaca dapat mendengar, melihat, atau merasakan apa yang sedang mereka baca.

Ciri-ciri paragraf deskriptif, yaitu: 

menggambarkan suatu benda, suasana, tempat dengan detail. Penggambaran juga dilakukan dengan melibatkan Panca indra di mana menjelaskan ciri-ciri objek tertentu, seperti warna, ukuran, bentuk, dan keadaan dengan jelas.

Paragraf deskripsi sendiri memiliki dua pola penggambaran, yaitu pola spasial dan pola pandang. Pola spasial sendiri adalah pola pengembangan paragraf dengan objek berupa ruang atau spasial. Pola sudut pandang adalah pola yang menggambarkan sudut pandang penulisan yang terdiri dari sudut pandang subjektif dan sudut pandang objektif.

Sudut pandang objektif lebih pada penggambaran objek sesuai penafsiran yang disertai dengan opini penulis. Sedangkan, sudut pandang objektif menggambarkan objek apa adanya.

Contoh paragraf deskripsi:

Perjalanan wisata ke Gunung Kidul menjadi bagian dari perjalanan yang tak terlupakan. Suasana yang sejuk dengan kondisi jalan yang rata dan luas membuat perjalanan tak terasa begitu lama. Di pinggiran jalan, banyak tersedia pedagang-pedagang satai dan gorengan serangga yang begitu langka. Selain itu, warga sekitar yang ramah juga sangat terbuka ketika Anda menanyakan jalan ketika merasa tersesat.

2. Paragraf Persuasi

Paragraf persuasi merupakan paragraf yang bertujuan untuk mengajak pembaca melakukan apa yang diinginkan oleh penulis. Paragraf ajakan sendiri didasarkan pada bukti-bukti nyata atau fakta untuk meyakinkan pembaca. Paragraf persuasi biasanya dibuat untuk iklan atau layanan masyarakat.

Ciri-ciri paragraf persuasi di antaranya, adalah: ide berasal dari pikiran dan berupa ajakan dengan menampilkan fakta-fakta tertentu.

Contoh paragraf persuasi:

Menurut penelitian yang dilakukan Greenpeace, sekitar 40 % spesies burung laut, 22 % mamalia laut, seluruh jenis penyu, dan beberapa spesies ikan terkontaminasi sampah plastik, baik tertelan atau menempel di tubuhnya. Oleh karena itu, akan lebih bijak jika Anda mulai mengurangi penggunaan sampah plastik.

3. Paragraf Eksposisi

Paragraf eksposisi merupakan paragraf yang berisi pemaparan dengan tujuan menyampaikan informasi khusus dengan mendalam dan spesifik. Paragraf ini lebih tepatnya bertujuan menyampaikan maksud dan tujuan penulis dalam menulis tulisan tersebut.

Paragraf ini akan mengajarkan dan menerangkan suatu topik kepada pembaca untuk memperluas pengetahuan.

Ciri-ciri paragraf persuasi, yaitu: memaparkan definisi, langkah, cara, serta metode tertentu dengan menggunakan gaya bahasa yang informatif. Selain itu, paragraf jenis ini juga biasanya dapat menjawab pertanyaan 5W+1 H (what, who, when, where, why + how). Paragraf ini bisa digunakan dalam berita, resep, cara-cara, dan lain sebagainya.

Contoh paragraf eksposisi:

Pencatatan WHO pada tahun 2000 menyatakan, bahwa kurang lebih 1,7 persen bayi lahir dinyatakan memiliki jenis kelamin ambigu atau interseks. Artinya, sekitar 1 per 2000 bayi lahir dengan keadaan interseks. Jika penduduk dunia digenapkan menjadi 7 miliar jiwa, maka 140 juta orang lahir dengan keadaan interseks, jumlahnya 25 kali lebih banyak dari penduduk Singapura dan bisa bertambah setiap tahunnya.

4. Paragraf Narasi

Paragraf narasi merupakan sebuah paragraf yang bertujuan untuk menampilkan alur cerita atau sebuah peristiwa di mana melibatkan tokoh, tempat, dan waktu.

Terdapat dua jenis paragraf narasi, yaitu:

  1. Narasi ekspositoris, Berisi rangkaian perbuatan seseorang atau kelompok yang disampaikan secara informatif.
  2. Narasi Sugestif, Mengisahkan suatu hasil rekaan, imajinasi, atau khayalan pengarang. Dalam hal ini paragraf biasanya berbentuk cerita atau novel.

Ciri-ciri paragraf narasi, yaitu adanya alur cerita, tokoh konflik, hingga senting. Paragraf jenis ini juga tidak memiliki kalimat utama yang tetap dan terkonsep.

Contoh paragraf narasi:

Sepak terjang politik Soekarno tak berlangsung mulus, ia bahkan pernah dipenjara di Sukamiskin, Bandung oleh pemerintahan penjajah Belanda karena dianggap terlalu melawan. Tak hanya dipenjara, Soekarno bahkan pernah diasingkan di Pulau Ende. Sebelum memproklamasikan kemerdekaan, Soekarno beserta kawan-kawannya melawan penjajah dua kali, yaitu Belanda dan Jepang (muncul setelah Belanda pergi).

5. Paragraf Argumentasi

Paragraf argumentasi berisikan tentang pendapat penulis di mana disertakan alasan yang dapat memperkuat argumentasi tersebut. Oleh karena itu, paragraf argumentasi harusnya mengandung gagasan atau pendapat kuat bila perlu bisa juga disertai dengan data-data faktual. Tujuannya jelas, yaitu untuk meyakinkan pembaca.

Ada 3 jenis pola paragraf argumentasi, antara lain:
  1. Pola Analogi, Paragraf berupa penalaran induktif yang membandingkan dua hal yang memiliki banyak persamaan.
  2. Pola Generalisas, Paragraf berupa penalaran induktif yang menarik kesimpulan berdasarkan data-data yang dipaparkan.
  3. Pola Hubungan, Paragraf berupa sebab akibat di mana memulainya dengan mengemukakan fakta khusus yang dijadikan sebab dan kesimpulan dijadikan sebagai akibat.

Contoh paragraf argumentasi:

Pemerintah Amerika memiliki akses data pada 3,1 miliar lalu lintas komunikasi email warga Negara Amerika, sementara di Rusia mereka hanya mengakses 1,5 miliar lalu lintas komunikasi. Artinya negara justru lebih banyak memata-matai warganya sendiri. Pemerintah berdalih bahwa tindakan pengawasan sejak awal ditujukan untuk mencegah ancaman cyberspace yang mungkin di timbulkan akibat keterlibatan warganya dengan pemerintah atau pihak asing. Tindakan pengawasan tidak secara langsung dimaksudkan untuk memata-matai warga negaranya.

Jenis Paragraf Berdasarkan Fungsi


Ada 4 jenis paragraf berdasarkan fungsinya, antara lain adalah:

1. Paragraf Pembuka

Jenis paragraf ini terletak pada awal sebuah tulisan di mana berfungsi untuk mengungkapkan aspek pokok pembicaraan dalam tulisan secara keseluruhan. Jenis paragraf ini berfungsi juga sebagai pengantar dan pengenalan tulisan pada pembaca. Isi dari paragraf ini adalah pengantar dari isi bacaan atau kaya tulis secara keseluruhan yang akan dijabarkan secara lengkap pada paragraf-paragraf selanjutnya.

Fungsi paragraf pembuka:

  • Mengantarkan pokok pembicaraan pada tulisan.
  • Menarik perhatian dan minat pembaca.
  • Memberikan gambaran secara keseluruhan.

2. Paragraf Pengembang

Seperti namanya, paragraf ini memiliki fungsi untuk mengembangkan topik atau gagasan utama dalam tulisan. Jenis paragraf ini berisi contoh-contoh, data-data empiris, permasalahan, uraian, dan lain sebagainya. Paragraf ini biasnya terletak di tengah-tengah tulisan dan ditulis dengan panjang. 

Fungsi lain paragraf pengembang antara lain:

  • Menjelaskan hal yang akan diuraikan secara rinci pada paragraf selanjutnya.
  • Meringkas pembahasan yang telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya.

3. Paragraf Peralihan

Paragraf peralihan menjadi jembatan atau peralihan antara dua paragraf utama, baik pada paragraf utama dan pengembang atau antara paragraf pengembang dan penutup. Paragraf ini biasanya ditulis dengan singkat dan padat. Fungsi utamanya adalah untuk memudahkan pembaca untuk memahami peralihan dari satu topik ke topik lain.

4. Paragraf penutup


Sebagai penutup, maka jelas paragraf ini terletak di penghujung tulisan atau karangan. Paragraf ini berfungsi sebagai kesimpulan tulisan dan penutup dalam sebuah karya.

Meskipun begitu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:

  • Tidak ditulis terlalu panjang.
  • Berisi kesimpulan sementara jika berada pada bab pembahasan dan bisa juga dijadikan kesimpulan akhir jika berada di akhir penulisan karya.
  • Memberikan kesan tersendiri pada pembaca dan menyimpulkan paragraf sebelumnya dengan tidak bertele-tele.

Demikianlah beberapa detail mengenai paragraf yang bisa kamu pelajari sebelum menulis sebuah karya. Sebelum menulis paragraf, kamu bisa mempelajari jenis, sudut pandang, dan fungsi paragraf agar penulisan tersusun secara sistematis dan logis. Bagaimana, siap menulis paragraf dengan baik dan benar?

0 Response to "Pengertian Paragraf: Fungsi, Ciri-Ciri, Jenis-Jenis dan Contohnya [Lengkap]"

Post a Comment